Tetap Beriman di Tengah Kecelakaan

Tetap Beriman di Tengah Kecelakaan

Oleh Christina, Yogyakarta

Jumat, 6 April 2018. Hari itu aku berjanji untuk menemui temanku di Surabaya. Dari Yogyakarta, aku berangkat menaiki Kereta Api Sancaka dan duduk di gerbong ekonomi 1 yang posisinya kira-kira empat gerbong di belakang lokomotif. Tepat pukul 16:40 kereta bertolak menuju Surabaya.

Aku sengaja memilih naik kereta api karena kupikir inilah transportasi yang paling aman. Tidak seperti bus yang kadang ugal-ugalan, naik kereta api terasa lebih tenang. Lajunya konstan, tinggal duduk lalu sampai di tujuan.

Sekitar jam setengah enam, kereta sudah melewati daerah kota Solo. Aku tidak tahu posisi kereta tepatnya berada di mana karena aku menghabiskan waktu dengan membaca buku. Hingga tiba-tiba kereta bergetar hebat. “Brakk!” Benturan keras terjadi. Semua penumpang kaget. Kira-kira tiga kali benturan itu terjadi, dan di benturan ketiga seluruh lampu di gerbong mati. Kereta berhenti total. Suasana gelap gulita, para penumpang panik dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kereta Sancaka yang aku tumpangi baru saja mengalami kecelakaan. Kereta menghantam sebuah truk pengangkut beton di sebuah perlintasan tanpa palang pintu. Lokomotif terguling dan tiga gerbong di belakangnya anjlok ke luar dari rel. Kurang lebih satu jam kami menanti dalam kebingungan. Tak tahu harus berbuat apa karena cuaca di luar hujan deras dan kereta berhenti di tengah-tengah proyek pembangunan jalan tol. Tidak ada pemukiman warga sama sekali di dekat rel.

Aku tertunduk di kursiku dan hanya bisa berdoa, “Tuhan, semoga hujan ini segera berhenti.”

Tidak lama kemudian, seorang penumpang mendapatkan kabar bahwa sang masinis kereta gugur dalam kecelakaan ini. Beliau berusaha mengerem laju kereta sebisa mungkin, namun kecelakaan tetap tidak bisa dihindari. Aparat kepolisian mulai berdatangan untuk mengevakuasi kru kereta api dan penumpang yang terluka. Puji Tuhan hujan sudah berhenti.

Seorang polisi memintaku untuk keluar dari gerbong. Tapi, aku takut. Dari pintu kereta hingga menyentuh tanah terpaut jarak yang tinggi. Akhirnya polisi itu memanggil rekannya dan menggendongku supaya aku bisa keluar dari gerbong.

Aku bersama para penumpang lainnya berjalan melewati tanah berlumpur. Pikiranku serasa kosong. Aku masih tidak percaya kalau kereta yang kutumpangi itu mengalami kecelakaan, padahal di awal perjalanan aku yakin bahwa kereta adalah transportasi yang paling aman.

Warga desa menawarkan bantuan kepada para penumpang. Mereka membawa mobil pikap dan mengantarkan penumpang yang terburu-buru ke terminal terdekat supaya bisa segera melanjutkan perjalanan ke Surabaya naik bus. Bersama belasan penumpang lain, aku ikut naik pikap itu dan berharap supaya aku bisa segera tiba di Surabaya.

Hatiku sedikit lega saat tiba di dalam bus. Setidaknya aku aman dan bisa istirahat sebentar, pikirku. Namun, anggapanku salah. Masih syok atas kecelakaan yang baru saja terjadi, supir bus mengemudi dengan ugal-ugalan. Beberapa kali dia mengerem mendadak dan nyaris menabrak kendaraan lain.

Aku kembali tertunduk dan berdoa, sementara para penumpang kereta yang sekarang satu bus denganku berusaha menegur supir supaya lebih berhati-hati mengemudi. Tapi, teguran itu tidak digubris hingga akhirnya sekitar jam 12 malam, bus menabrak bus lain yang berada di depannya. Kepanikan pun melanda, lututku lemas. Penumpang lain ada yang mengamuk kepada sopir dan ada juga yang menangis.

Singkat cerita, semua penumpang kemudian diangkut menggunakan bus lain dari perusahaan bus yang sama. Jam dua dini hari aku tiba di Surabaya. Aku sungguh bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk tiba di tujuan dengan selamat.

Dua kecelakaan yang terjadi dalam kurang dari enam jam bukanlah peristiwa yang aku harapkan. Itu adalah peristiwa yang tidak terduga, tidak terkendali, tidak terbayangkan, dan tidak pernah terjadi sebelumnya kepadaku. Tatkala kecelakaan itu terjadi, aku merasa begitu takut, apalagi aku bepergian seorang diri. Namun, satu yang kulakukan kala itu adalah berdoa. Dengan berdoa, Allah menguatkan imanku, sebagaimana Pemazmur yang mengatakan:

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mazmur 62:2-3).

Ya, kecelakaan atau musibah apapun bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan ini. Tidak ada jaminan bahwa hidup kita akan selalu mulus dan selalu terluput dari marabahaya. Namun, alih-alih membiarkan rasa takut akan musibah itu menguasai kita, kita bisa bersandar penuh kepada Allah yang di dalam Kristus telah memberikan janji penyertaan-Nya setiap waktu.

“Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Oleh Christina, Yogyakarta

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *