Menu Tutup

Teladan Iman Seorang Ayah

Oleh: Pdt. Hengky Tjia

Kej 22 (1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” (2) Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

 Pendahuluan

Minggu ini kita memperingati “Hari Ayah”.  Seorang ayah memiliki peran yang begitu penting dalam membangun sebuah keluarga, gereja dan juga bangsa. Pemazmur berkata “ . . . anak-anak-Mu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” (Maz 128:3).  Mutu suatu tunas sangat tergantung pada mutu induk pohonnya.  Jika pohon itu baik, maka tunasnya juga baik.  Namun jika pohon itu buruk, maka tunasnya juga buruk.  Sifat, watak dan kepribadian seorang anak sangat tergantung pada teladan orang tuanya.

Kejadian 22 menampilkan sebuah gambaran yang indah tentang hubungan seorang ayah dan anaknya. Ini adalah salah satu kisah yang paling menyentuh di dalam Alkitab. Kisah ini menyampaikan pesan dan arahan yang luar biasa kepada para ayah.  Setidaknya ada dua gambaran yang bisa kita lihat di dalam kisah ini.

Gambaran pertama, penundukan seorang ayah kepada Allahnya.

Perikop ini dibuka dengan sebuah keterangan: “Setelah semuanya itu . . .” (22:1).  Jika kita memperhatikan konteks perikop yang terdekat, yaitu Kejadian pasal 20 dan 21, maka kita akan melihat sebuah gambaran ketidaksempurnaan dalam diri Abraham.   Ketidaksempurnaan itu nampak nyata secara khusus dalam peran Abraham sebagai seorang suami. Abraham pernah membohongi raja Abimelekh dengan mengatakan bahwa Sara adalah saudaranya, dan bukan istrinya.  Akibat kebohongannya, raja Abimelekh hampir memperistri Sara.  Ketidaksempurnaan Abraham juga nampak nyata secara khusus dalam perannya sebagai seorang ayah, yang tidak berdaya melindungi Ismail anaknya, ketika Sara menyuruhnya mengusir Hagar dan Ismail.  Saudara, Abraham bukanlah seorang suami dan ayah yang sempurna. 

Tetapi Allah justru memilih Abraham menjadi “Bapa orang beriman”, Bapa bagi bagi semua orang yang menjadikan Allah sebagai Allah mereka. Bukan Henokh, bukan Yusuf, bukan Yosua yang Tuhan jadikan Bapa orang beriman, tetapi Abraham yang banyak kekurangannya. Tetapi, setelah semua peristiwa dan pengalaman yang dialaminya bersama dengan Tuhan, Abraham semakin mengenal Allah dan kehendak Allah baginya.

Saudara yang terkasih, mengenal siapa Allah dan apa kehendak-Nya bagi kita sangat penting! Namun mungkin seringkali kita bertanya: apa maksud Allah dibalik semua peristiwa yang aku alami?  Apa maksud Allah? Seringkali pula  kita BELUM mendapatkan jawabannya, dan sebuh pertanyaan kemudian menghentak kita: “Masihkah kita percaya kepada-Nya?” 

16 Juni 1996 merupakan hari Ayah yang bersejarah bagi saya. Itu adalah Hari Ayah terakhir saya bersama dengan papa saya. Semilan hari kemudian papa meninggal dunia. Beliau meninggal di usia yang terbilang masih sangat muda, 43 tahun. Padahal beliau tulang punggung satu-satunya keluarga kami. Saya tidak mengerti apa maksud Tuhan memanggil papa begitu cepat.  Pertanyaannya: Masihkah saya percaya kepada Tuhan, meskipun yang belum mengerti apa maksud Tuhan? 

Abraham juga pernah mengalami situasi yang sangat sulit ketika Allah memerintahkan dia untuk mempersembahkan putranya Ishak sebagai kurban bakaran.  Mengapa Tuhan yang baik memerintahkan hal itu? Bukankah Ishak adalah anak yang Tuhan janjikan sendiri? Bukankah sesuai janji Tuhan, melalui Ishaklah bangsa-bangsa di bumi diberkati? Kita melihat Abraham taat

Bagi Abraham ini adalah ujian terdalam baginya sebagai seorang ayah.  Bagaimana respon Abraham? Kej 22:3  Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. 

Tidak ada alasan yang lain.  Allah satu-satu-satunya alasan.  Selama ini Abraham telah mempercayakan dirinya dan keluarganya kepada Allah.  Abraham percaya kepada Allah dan mengenal siapa Allah.  Abraham memilih untuk taat kepada Allah.  Seperti apakah iman Abraham? Beberapa ayat dalam perikop ini menunjukkan kepada kita bukan hanya penyerahan total Abaraham kepada Allah, tetapi juga logika iman-nya.  Saya akan menunjukkan beberapa ayat dalam perikop ini:

Kej 22:4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.  5  Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” 

Kej 22:7  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”  8  Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 

Ibr 11:17  Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 18  walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” 19  Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. 

Abraham menaati Allah karena ia menginginkan yang terbaik dari Allah bagi hidup dan keluarganya. Jika kita juga menginginkan yang terbaik bagi diri Anda sendiri, istri, dan anak-anak kita, kita harus sadar bahwa ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya, itulah  yang akan mewujudkannya.

Abraham menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan seorang ayah terletak kepada penundukannya kepada Allah. Ketika seorang ayah tunduk  pada prinsip-prinsip Allah, menaati Dia setiap hari, percaya bahwa Allah akan menggenapi semua yang Ia janjikan.  Ketika kita tunduk pada pimpinan-Nya.

Kunci untuk memiliki keluarga yang harmonis dan terarah adalah para ayah yang bertanggung jawab untuk memimpin keluarga mereka. Seorang ayah bertanggung jawab kepada Allah.  Seorang ayah juga bertanggung jawab kepada keluarganya untuk memenuhi kebutuhan mereka, melindungi mereka dalam segala keadaan, dan berperan sebagai imam bagi mereka. Kepemimpinan rohani di dalam keluarga terletak di bahu ayah.

Bagaimana seorang ayah memberikan pimpinan rohani?  

  • la bertanggung jawab secara langsung kepada Allah untuk mengajar, memberi petunjuk, mengingatkan, dan menyediakan dasar-dasar disiplin di dalam keluarga (Ulangan 6:1-7; Amsal 4:1, 4-7; 6:20).
  • Ia memberikan pimpinan yang baik bagi anak-anaknya (Mazmur 103:13) dan berusaha untuk tidak melukai roh mereka dengan kekerasan dan teguran yang berlebihan (Kolose 3:21; Ibrani 12:9).
    • Dari semua hal yang diinginkan para remaja dari ayah mereka, ada dua yang hal yang bertengger nyaris di peringkat teratas: mereka berharap para ayah tidak terlalu cepat marah dan mereka berharap para ayah bersedia mengakui kesalahan mereka.
    • Kepemimpinan rohani yang bijaksana akan memasukkan hal-hal di atas dalam pertimbangan mereka.
  • Seorang ayah juga merangsang timbulnya iman dan membangkitkan semangat anak-anaknya (1Tesalonika 2:11)
  • Ia menyediakan waktu untuk memberikan perhatian secara pribadi kepada mereka.

Gambaran yang kedua adalah penundukan seorang anak kepada ayahnya.

Setiap jejak dalam kisah ini menunjukkan bahwa Abraham dan Ishak memiliki hubungan yang erat. Mereka pergi bersama menuju tempat untuk melakukan pengurbanan tersebut. Abraham pasti sudah menyampaikan pesan Allah kepada putranya dengan lemah lembut, dan Ishak dengan penuh ketaatan membiarkan ayahnya mengikatnya di atas altar. Ini merupakan gambaran dari ketaatan Kristus kepada Bapa! Ishak tunduk kepada kehendak dan otoritas ayahnya, dan dengan demikian, ia tunduk secara luar biasa pula kepada Allah, yang bertanggungjawab atas semua peristiwa tersebut.

Di sini ada sebuah kebenaran yang menakjubkan bahwa Allah bekerja melalui para ayah dan ibu! Keduanya dipakai oleh Allah menjadi sarana untuk mengembangkan sikap dewasa di dalam kehidupan putra-putri mereka. Jika seorang ayah gagal melaksanakan tanggung jawabnya, sebuah keluarga kehilangan yang terbaik dari Allah. Akibatnya ada tekanan tambahan yang diletakkan di atas bahu ibu dan anak-anak. Perlindungan yang lenyap dari keluarga bagaikan sebuah payung yang terbang dari atas kita ketika hujan tiba.  Ada sesuatu yang hilang, yang akan memengaruhi hubungannya dengan istri dan anak-anaknya.

Ketika para ayah (dan ibu) menerima tanggung jawab mereka, maka anak-anak belajar dari keteladanan itu untuk untuk tunduk. Penundukan Ishak digambarkan dengan begitu indah. Tak ada sedikitpun pemberontakan, tak ada sikap yang mendukakan orangtuanya maupun Allahnya.

Seorang ayah boleh menolak tanggung jawab untuk menjadi pemimpin rohani di dalam keluarganya, tetapi ia tidak bisa mengelak dari konsekuensi atas pilihannya.

Kesimpulan

Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami tekanan hidup yang begitu rupa, sampai-sampai kita tidak menemukan alasan yang lain untuk hidup kecuali karena Dia satu-satunya alasan untuk kita hidup.

Penundukan kepada Allah adalah kuncinya. Tetaplah tunduk kepada Allah sekalipun kita belum mengerti apa maksud Allah. Jadikan Dia satu-satunya alasan untuk kita hidup.  Satu-satunya alasan kita berusaha menjadi ayah yang baik adalah karena Dia adalah Allah kita. Kita adalah milik-Nya dan Dia sudah melakukan kebaikan disepanjang hidup kita. Kebaikan teragung yang telah Dia lakukan justru melampaui apa yang Abraham lakukan.  Dia mengikhlaskan Anak-Nya yang tunggal mati di kayu salib demi menebus kita.  Apa alasannya Allah melakukan itu?  Karena kita, karena Dia mengasihi kita.  Tidak ada alasan yang lain.

Ilustrasi: Saya ingat di Hari Ayah 1996 itu  papa memenuhi ajakan saya untuk ke gereja saya untuk melihat saya menyanyi bersama vokal grup saya. Waktu itu saya menyanyi dengan mata berkaca-kaca, ada rasa takut kehilangan papa, tetapi saya rindu menguatkan papa dengan pujian itu:  Tuhanlah gembalaku, yang setia tulus dan benar. Dialah yang memberi nyawanya untukku. Dialah yang menebus dosa manusia. Hohoho kibarkanlah panji kemenangan itu, dan kabarakan Injil kebenaran, dan janganlah jangan gentar, Tuhan menyertaimu, sampai ke akhir hidupmu.

Hai para ayah, tetaplah tunduk kepada Allah.  Dialah alasan kita hidup dan melayani sebagai seorang ayah. Mari kita menguduskan diri kita dengan mengkhususkannya bagi Allah. Rom 12:1  berkata “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Mempersembahkan tubuh berarti menyerahkan pikiran, perkataan dan perbuatan kita secara keseluruhan kepada Allah, untuk kepentingan Kerajaan Allah dan bukan untuk kepentingan diri.

Bagaimana caranya Anda sebagai ayah dapat memulai peran Anda sebagai pemimpin rohani di rumah Anda?

  1. Mengakui di hadapan Allah segala kelemahan kita dalam memimpin.
  2. Mintalah istri dan anak-anak untuk mengampuni kelemahan kita dalam memimpin.
  3. Mengatur kembali prioritas kita sehingga hubungan yang baru ini dapat menjadi hubungan yang tetap. Prioritas kita seharusnya demikian: pertumbuhan dan perkembangan rohani pribadi, istri dan anak-anak, kemudian pekerjaan dan pelayanan.
  4. Menjadikan diri kita teladan rohani. Izinkan keluarga melihat Anda membaca Firman Allah dan mendengar Anda berdoa.
  5. Mulailah memimpin keluarga untuk membaca Alkitab, berdoa, dan saling berbagi.
  6. Memberikan waktu pribadi kepada anak-anak secara teratur untuk mempelajari Alkitab, berdoa, mengajar, dan berbagi. Meluangkan waktu teratur bersama istri Anda untuk berdoa dan bersekutu secara rohani.
  7. Mengembangkan sikap yang membangkitkan semangat keluarga, seperti kasih, kesabaran, dan iman.

Kiranya Allah menuntun Anda sampai kepada puncak kebaikanNya bagi Anda dan keluarga Anda.

Penulis : Pdt. Hengky Tjia
Ketua Sinode GKKA INDONESIA

Kolom Komentar!

Berikan komentar sesuai Pedoman Kami