PGI : Tanggap Darurat Asmat

PGI : Tanggap Darurat Asmat

PGI Bentuk Tim Tanggap Darurat Asmat

JAKARTA,PGI.OR.ID – Wabah penyakit campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua, sejak September 2017 hingga Januari 2018 menyisakan duka mendalam. Tercatat sebanyak 67 balita meninggal dunia.

Sebagai langkah untuk memberikan bantuan dan pertolongan terkait kasus yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh pemerintah ini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) membentuk Tim Tanggap Darurat Asmat. Tim tersebut akan melaksanakan kegiatan sosial bagi masyarakat Asmat sejak 1-28 Februari 2018, dengan sejumlah kegiatan, antara lain pengobatan penyakit pada Balita, mengatasi gizi buruk Balita, pendidikan kesehatan ibu dan anak, serta penyediaan air bersih.

Menurut Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI Pdt. Henrek Lokra, apa yang terjadi di Asmat sekarang telah melebar ke Marauke. Sebab itu, PGI melihat kondisi ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. “Kita perlu bergandengan tangan dalam memberi respons secara tepat. Juga tidak bisa ditangani secara parsial, tetapi harus ditangani secara berkelanjutan,” tandasnya.

Lanjut Pdt. Henrek, PGI telah berkoordinasi dengan mitranya dan akan menurunkan dokter-dokter dari UKI, Pelkesi, UKSW, relawan bidan dan perawat dari JKLPK dan akan berkoordinasi dengan Sinode dan Klasis GPI dan GKI di Asmat.

“Karakter wilayah di Asmat, Agast sangat unik. Mengingat jangkauan wilayah yang berat, minim sarana transportasi, air bersih, obat-obatan, makanan sehat, membuat kami merasa penting untuk mendorong Gereja-gereja di seluruh Indonesia untuk membuka persembahan khusus untuk penanganan Papua. Posko yang merespons Asmat sudah dibuka oleh PGI. Silahkan berkoordinasi untuk menyalurkan bantuan anda secara organisasi maupun secara pribadi. Bantuan anda sangat bermakna bagi tranformasi krisis di Papua saat ini,” jelasnya.

Bantuan dana dapat ditransfer ke Rekening Bank Mandiri No. Rek. 123 0004263 176. Atau ke BCA  Cab. Matraman No. Rek.  342.301.2001, atas nama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. Sedangkan bahan makanan dan susu untuk Balita dan kebutuhan Balita lainnya, dapat dikirirm ke Posko Tim tanggap Darurat Asmat-PGI, Grha Oikoumene, Jl. Salemba Raya 10, Jakarta Pusat.

Untuk contact person, silahkan hubungi Pdt. Henrek Lokra (HP/WA: 08121351133) dan Debby Manalu (HP/WA: 081263787955).

PGI Berangkatkan Tim Tanggap Darurat Asmat

Tim Tanggap Darurat Asmat PGI, Minggu (28/1) telah memberangkatkan 3 orang dari tim tersebut yaitu dr. Alphinus Kambodji, dr. Jodelin Muninggar, dan Hamled Rundubelo sebagai ahli air dan sanitasi, menuju Timika, dan selanjutnya ke Kabupaten Asmat, dan Agast.

“Kita berharap upaya yang dilakukan, bukan hanya pada tahap emergency, tetapi berkelanjutan. Sampai masyarakat mampu. Kita berencana bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga Pendidikan kesehatan, yaitu melalui perberdayaan, sosialisasi, sehingga masyarakat mampu mencari solusi, untuk menyelesaikan permasalahannya. Kita percaya, jawaban dari permasalahan ini, ada ditengah masyarakat itu sendiri, maka kita membantu mereka menemukannya.” ujar dr. Jodelin, yang juga dosen dari kedokteran UKSW. 

Sementara itu, informasi terakhir di Posko GPI, Asmat, bahwa ada 16 KK, dengan jumlah jiwa 67, diantaranya 7 orang anak dengan status gizi buruk.

Musibah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan Gizi Buruk yang menimpa anak-anak di Kabupaten Asmat, Papua memang sangat mengejutkan. Tercatat sejak September 2017 sampai saat ini 70 orang anak meninggal, dikarenakan gizi buruk dan campak. Dari 12.398 anak, ada 646 anak terkena wabah campak, dan 144 anak menderita gizi buruk. KLB ini merupakan fenomena gunung es, yang memperlihatkan masih banyak warga masyarakat yang belum tersentuh pembangunan, bahkan pelayanan kesehatan, khususnya di daerah Papua. Tentu ini mengusik rasa kemanusiaan, yang menjadi perhatian  bersama, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, juga sebagai Gereja yang hadir  ditengah-tengah mereka yang menderita.

PGI mengapresiasi segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani kasus ini. Dan menyadari dibutuhkan usaha, dan dukungan semua pihak untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini. Sebab itu, sejak 22 Januari 2018, PGI telah membuka Posko Bantuan yang akan disalurkan ke Kabupaten Asmat. Posko ini membuka kesempatan untuk setiap orang berpartisipasi memberi bantuan, baik dalam sejumlah dana, maupun barang-barang yang disesuai kebutuhan, seperti makanan sehat untuk bayi, juga pakaian.

Pelayanan Kesehatan Tim Tanggap Darurat Asmat PGI

Sejak diberangkatkan pada Minggu (28/1), Tim Tanggap Darurat Asmat PGI telah melakukan pelayanan kesehatan di Puskesmas dan UGD yang pasiennya datang setiap saat, siang maupun malam. Melayani berbagai penyakit infeksi, pasien melahirkan, bayi, anak, dan orang dewasa yang rawat jalan maupun rawat inap.

Selain itu, inspeksi lapangan secara terbatas, termasuk potensi air bersih sekaligus pemetaan masalah dan langkah-langkah intervensi lainnya. Juga koordinasi dengan pihak GKI TP, GPI, Katolik, Distrik dan Kepolisian agar semua pihak bisa mendukung program yang telah disiapkan.

Demikian informasi yang disampaikan oleh Tim Tanggap Darurat Asmat PGI dr. Alphinus Kambodji dan Ejodia Kakoensi, Minggu (4/2).

Diinformasikan bahwa terkait penanganan kasus kesehatan per Minggu (4/2) pukul 06.00 WIT, tim dokter spesialis KLB di RSUD Asmat, diagnosa sakit evakuasi dari distrik dan datang berobat rawat inap di RSUD tercatat Campak 5 pasien, dan Gizi Buruk 11 pasien. Untuk penyakit lain nihil. Sementara rawat inap di Aula GPI pasien Campak dan Gizi Buruk nihil. Sebagai catatan, rawat inap di RSUD Asmat digunakan untuk perawatan sakit yang memerlukan perhatian khusus dokter. Sedangkan rawat inap di Aula GPI Agats digunakan untuk pasien yang sudah dinyatakan dokter dalam masa pemulihan.

 Sementara itu, ada 9 pasien yang sembuh dan diijinkan pulang. Mereka adalah Benny Dikta (3 thn) KPG Amboret Distrik Jetsy, Andrianus (2 thn) KPG Amboret Distrik Jetsy, Penansius (10 bln) KPG Amboret Distrik Jetsy, Barnabas (2 thn) KPG Suru Distrik Agats, Mario (2 thn) KGP Suru Distrik Agats, Kasimirus (3 thn) KPG Yaun Distrik Joerat, Amsal (2 thn) KPG Yuni Distrik Akat, Mince (3 thn) KPG Sawa Erma Distrik Sawa Erma, dan Fari Josep (13 bln) KPG Tomor Distrik Suru-Suru.

Tim juga menginformasikan terkait hasil kesimpulan rapat Satgas KLB, Minggu (4/2). Diinformasikan bahwa PemKab dan jajaran serta lembaga terkait akan fokus pada pengobatan dan pendampingan untuk warga pasien karena dengan melibatkan masyarakat dalam proses pemulihan sehingga keluarga-keluarga akan mendapatkan bantuan juga dalam bentuk sembako. Untuk susu bagi anak usia di bawah 5 tahun akan diserahkan kepada Puskesmas dan Puskesmas yang akan mendistribusikannya. Susu bagi anak di atas 5 tahun akan diserahkan ke sekolah-sekolah sehingga anak-anak bisa mendapatkan makanan tambahan.

Sementara himbauan dari pemerintah jika ada orang/utusan lembaga/instansi pemerintah jangan hanya datang beberapa hari saja tapi bisa tinggal di Puskesmas dan membantu di sana. Hal ini dikarenakan ada tenaga-tenaga yang dibutuhkan seperti dokter spesialis yang didatangkan Kemenkes namun hanya datang beberapa hari saja. PemKab membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan.

Logistik yang ada hanya untuk bantuan jangka pendek, ini bisa jadi bom waktu karena masyarakat hanya akan menunggu dan berharap pada bantuan saja. Pemerintah harus memikirkan bagaimana caranya agar ini (penumpukan logistik/bantuan) tidak terulang lagi. Khusus untuk operasi yang sudah dilakukan di 224 kampung akan dievaluasi untuk menentukan status KLB (diputuskan pada hari ini, Senin (5/2), dan tugas selanjutnya adalah pendampingan dan pemkab mengharapkan bantuan tenaga dari pusat yang bukan datang harian tapi minimal 1 bulan karena berkaitan dengan pengaturan transportasi. Fokus pada pendampingan akan bicarakan bersama semua stakeholder (yang saat ini ada) di Asmat.

Khusus di Distrik Suru-Suru, Tim Kesehatan Pemda Distrik Suru-Suru telah melakukan pelayanan kesehatan vaksinasi di kampung Suru-Suru 34 anak, Kampung Berimono 6 anak, Kampung Koba 22 anak, Kampung See 10 anak, Kampung Dumafen 4 anak, Kampung Asgun 5 anak, Kampung Walse 9 anak, Kampung Kibiduk 3 anak, Kampung Besika 4 anak, dan Kampung Salbik 2 anak. Total keseluruhan anak yang telah mendapatkan vaksinasi di Distrik Suru-Suru berjumlah 99 anak.

Pengadaan air bersih juga menjadi sangat penting. Tim dalam rapat koordinasi menegaskan perlunya kerjasama terpadu sebab satu-satunya sumber hanya air hujan, maka diupayakan agar tangkapan-tangkapan air hujan diperbanyak selain itu, perlu juga mendidik masyarakat agar hemat air. Tim PGI akan membantu memaksimalkan kebutuhan ini terutama di lokasi fasilitas publik seperti Puskesmas.

Diinformasikan pula, tim kesehatan gabungan TNI, POLRI, BAZNAS dan KEMENKES telah memvaksinasi 16.693 anak-anak di 213 desa di Asmat. Tim terakhir yang kembali dari kampung terjauh, Kolbrasa melaporkan kondisi yang sangat sulit tanpa logistik karena bantuan logistik mereka tidak sampai dan mereka mengalami kecelakaan perahu Katingting serta untungnya masih ada obat-obatan di Puskesmas. Di distrik Suru-suru, kabar terakhir, 11 desa sudah berhasil di vaksinasi jadi total 224 desa sudah terlayani.

Campak sudah berhasil diatasi, meskipun demikian, beberapa tim masih menemukan 1-2 anak yang terkena namun mobilisasi ke RSUD berjalan dgn cepat. Gizi buruk tentu saja masih ada dan ini membutuhkan pemulihan yang cukup lama dan tidak hanya menjadi urusan Dinkes atau Kemenkes. Tetapi harus segera diformulasikan program terpadu untuk mengatasi ini terutama melatih orangtua penduduk asli mengenai kesehatan dan kebersihan sambil infrastruktur penunjang disediakan.

Total anak-anak yag menderita campak ada 654 jiwa dan gizi buruk 220 (angka ini kemungkinan akan bertambah). Data ini dihitung sejak September 2017, artinya sesudah tim gabungan masuk, angka campak yang ditemukan sangat jauh berkurang. Tim TNI POLRI melaporkan telah melayani 14.950 anak, sementara dari Kemenkes 5,255. Ini karena wilayah-wilayah yang jauh di pedalaman ditangani oleh tim TNI POLRI.

Dari Kemenkes telah dikirim tim dokter tahap 3 yang umumnya dari RSCM di mana personel mereka termasuk dokter-dokter ahli, dan dokter umum. Target awal tim kesehatan Satgas 1 bulan operasi penanggulangan campak, bisa dilaksanakan dalam 20 hari. Ini berarti, tahap kedua yaitu rehabilitasi telah mulai dipikirkan.

Klik…

Laporan Tim Tanggap Darurat Asmat PGI dalam bentuk Pdf

Sumber : PGI

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *