Sebuah Kisah Tentang Gula

Sebuah Kisah Tentang Gula

Oleh Aryanto Wijaya

Ketika Mahatma Gandhi masih menjadi seorang mahasiswa dan belum terkenal, ada seorang ibu datang menghampirinya. Ibu ini sudah kehabisan akal untuk menasihati anaknya yang tak pernah mau menuruti nasihatnya. Akhirnya, karena dia mendengar kabar bahwa Gandhi adalah seorang yang suka memberi nasihat, maka dia pun bermaksud meminta bantuan Gandhi.

Kepada Gandhi, ibu itu bertutur bahwa anaknya sangat suka makan gula. Saking sukanya, ibu itu pun menjadi khawatir kalau-kalau nanti anaknya akan mengidap penyakit yang disebabkan oleh konsumsi gula berlebih.

“Tolong nasihati anakku. Aku sudah melarangnya supaya jangan terlalu banyak makan gula. Tapi, dia tetap saja makan gula,” pintanya.

“Baik, ibu. Tolong datang dua minggu lagi ya,” jawab Gandhi.

Ibu itu pun pulang. Sesuai jawaban Gandhi, dia kembali datang dua minggu kemudian. Saat bertemu anak sang ibu, Gandhi pun berkata: “Nak, jangan sering makan gula karena itu tidak bagus untuk kesehatanmu. Ikuti apa kata ibumu,” nasihatnya singkat.

Ajaibnya. Nasihat singkat Gandhi tersebut ternyata manjur. Saat itu dan hari-hari setelahnya, anak itu pun berhenti makan gula.

Penasaran, tiga hari kemudian sang ibu kembali datang menemui Gandhi.

“Gandhi, mengapa kamu memintaku untuk menunggu dua minggu sebelum kamu menasihati anakku?” tanyanya heran.

“Maaf, karena dua minggu yang lalu aku juga masih makan gula. Saat aku berhenti makan gula, barulah aku berani menasihati anak ibu,” jawab Gandhi.

* * *

Kisah di atas adalah kisah yang kudengar ketika menghadiri sebuah ibadah di gereja dua minggu lalu. Isinya sederhana, tapi pesannya begitu kuat. Seringkali, dalam relasi kita dengan sesama manusia, entah itu dengan teman, sahabat, keluarga, ataupun orang lain, kita berusaha untuk menasihati mereka. Kita tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang lain itu buruk, oleh karena itu, dengan maksud untuk kebaikannya, kita pun menasihatinya.

Namun, tidak semua nasihat kita dapat diterima oleh mereka. Terkadang, alih-alih menuruti nasihat kita, seringkali orang tersebut malah bersikap acuh tak acuh, persis seperti anak dari sang ibu yang tak mau berhenti makan gula. Lama-lama, kita pun tak jarang menjadi jengkel dan pada akhirnya memilih untuk membiarkan saja.

Tapi, sebelum kita menyerah dan melabeli orang tersebut dengan cap “bebal” karena tidak mau mendengarkan nasihat, mengapa kita tidak coba menelisik terlebih dulu ke dalam diri sendiri?

Ada satu hal yang bisa kita pelajari dari sini: kata-kata seringkali menjadi kurang bermakna jika tidak ada tindakan yang menyertai. Untuk menyampaikan nasihat kepada seseorang, tidaklah cukup hanya dengan menyampaikannya kata-kata. Lebih daripada itu, dibutuhkan sebuah kemauan dari kita untuk mengintrospeksi dan mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Jangan sampai kita seperti peribahasa tong kosong nyaring bunyinya, pandai memberi masukan, tetapi tidak mampu memberi teladan.

Kisah ini pun menegurku. Aku tidak mungkin meminta temanku untuk berhenti berkata kasar sementara aku sendiri masih sering mengumpat dengan kata-kata yang kotor. Aku tidak mungkin meminta temanku untuk menjadi seorang yang disiplin sementara aku masih sering melanggar peraturan. Dan, aku pun tidak mungkin memberitakan Injil kepada orang lain dan mengajaknya untuk mengikut Yesus apabila aku sendiri tidak mengimani iman percayaku dengan sungguh-sungguh.

Alkitab mengatakan demikian:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 7:12).

Ketika Tuhan Yesus mengundang kita untuk menjadi murid-murid-Nya, Dia terlebih dulu telah memberikan teladan nyata kepada kita. Ketika Dia mengajar kita untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Dia sudah terlebih dahulu mengampuni kita dari segala dosa-dosa. Ketika Dia mengajar kita supaya kita jangan takut, Dia terlebih dahulu sudah mengalahkan rasa takut itu. Ketika Dia mengajar kita untuk berdoa, Dia sudah terlebih dulu berdoa kepada Bapa.

Teladan-Nya yang sempurna seharusnya menginspirasi kita untuk juga menjadi teladan bagi orang lain.

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *