[Renungan] Pekerjaan yang Belum Selesai

[Renungan] Pekerjaan yang Belum Selesai

Renungan Harian

Baca: Roma 7:14-25

7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

7:26 Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —Roma 7:24-25

Pada kematiannya, seniman besar Michelangelo meninggalkan banyak proyeknya yang belum selesai. Namun demikian, ia sengaja tidak menyelesaikan empat buah patung yang dirancangnya. Patung-patung yang diberi nama Bearded Slave, Atlas Slave, Awakening Slave, dan Young Slave itu memang dibiarkan terlihat belum tuntas oleh Michelangelo. Seniman ulung itu ingin menunjukkan rasanya diperbudak untuk selamanya.

Alih-alih membuat sosok patung yang dirantai, Michelangelo membuat sosok-sosok tersebut seakan terjerat dalam marmer yang menjadi bahan dari sosok ukiran itu sendiri. Tubuh patung-patung itu seperti hendak keluar dari batu marmernya, tetapi tidak sepenuhnya terlepas. Meski sosok-sosok itu meliukkan otot-ototnya, mereka tidak pernah bisa membebaskan diri.

Saya langsung berempati dengan patung-patung budak itu. Keadaan mereka yang mengenaskan sangat mirip seperti pergumulan saya dengan dosa. Saya tidak dapat membebaskan diri: seperti patung-patung itu saya terjerat, “menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm. 7:23). Sekeras apa pun usaha saya, saya tidak bisa mengubah diri saya sendiri. Namun, syukur kepada Allah, kamu dan saya tidak akan berakhir seperti patung-patung yang belum selesai itu. Memang kita tidak akan sempurna sebelum kita tiba di surga. Akan tetapi, sementara kita hidup di dunia dan menerima perubahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, Dia senantiasa mengubah kita. Allah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan baik yang telah dimulai-Nya di dalam kita (Flp. 1:6). —Amy Peterson

Tuhan, terima kasih karena Engkau membuatku menjadi ciptaan baru melalui karya Anak-Mu, Yesus Kristus, yang membebaskan kami dari perbudakan dosa.

Allah adalah tukang periuk; kita tanah liatnya.

Sumber :

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *