Puji Tuhan, Papa Kembali Mengikut Tuhan

Puji Tuhan, Papa Kembali Mengikut Tuhan
Oleh Debora, Bandung

“Jangan pergi, kamu gak boleh keluar rumah!” teriak Papa di sebuah Minggu pagi kala aku akan berangkat mengajar sekolah Minggu. Papa mengunci pintu kamarku dan meninggalkanku sendirian di dalam kamar.

Melarangku untuk beribadah hanyalah salah satu dari banyak hal yang dilakukan Papa sejak Papa menjadi begitu kecewa kepada pemimpin gereja, yang akhirnya merembet pada kekecewaan kepada Tuhan. Padahal, sebelumnya Papa begitu berkobar-kobar semangatnya dalam melayani Tuhan. Kala itu, pemimpin gereja kami sepakat untuk membuka pos PI di rumah kami untuk tempat berkumpulnya bakal jemaat. Namun, entah mengapa, rencana itu batal dan Papa menjadi sangat kecewa karenanya.

Sejak saat itu, Papa tidak beribadah lagi dan sering menyindirku dan Mama yang masih beribadah. Papa bisa tiba-tiba menyindirku, “Loh, kamu gak ibadah?”, padahal hari itu hari biasa. Contoh lainnya, ketika teman laki-lakiku datang ke rumah, Papa berkata kepadanya, “Eh, kalau kamu suka dengan anakku ini, kamu harus bisa berdoa 10 jam loh…” Sindiran-sindiran seperti itulah yang sering dilontarkan Papa, yang menyakiti hatiku. Namun demikian, Tuhan menolongku untuk mengampuni Papa, dan terus berdoa serta berpuasa khusus untuk Papa. Pagi dan malam aku menangis di tempat tidur, meminta Tuhan memulihkan Papa. Aku tetap beriman bahwa Papa akan dipulihkan oleh-Nya.

Setelah perjuangan panjang, Tuhan akhirnya menjawab doaku. Setelah dua tahun hidup dalam kekecewaan, Papa menyadari bahwa kehidupannya semakin tidak baik. Pekerjaan yang dilakukannya tidak berhasil, hingga Papa harus menutup usahanya dan menjadi supir taksi bandara. Papa juga tidak merasakan kedamaian.

Hingga suatu hari Minggu pagi ketika Papa akan pergi bekerja, Papa benar-benar merasakan kehilangan damai sejahtera. Tiba-tiba Papa terdiam di dalam mobilnya, menangis dan menyadari bahwa dia butuh Tuhan. Papa merindukan kasih Tuhan yang pernah dia rasakan dahulu. Papa lalu pulang kembali ke rumah dan berkata, “Papa mau ke gereja hari ini…”

Sejak saat itu, Papa berubah kembali menjadi pribadinya yang dahulu: suka berdoa, membaca firman Tuhan, dan bergiat lagi dalam melayani Tuhan sebagai penyambut jemaat di gereja. Aku percaya ini semua adalah pekerjaan Roh Kudus dalam diri Papa, dan aku amat bersukacita karenanya. Puji Tuhan, Papa kembali mengikut Tuhan!

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, namun aku bersyukur karena Roh Kudus selalu mengingatkanku untuk tidak menyerah, terus berdoa, terus mengampuni dan mengasihi Papa hingga akhirnya Papa mengalami pemulihan dari Tuhan. Pada akhirnya, aku dapat berkata bahwa semua rencana Tuhan bagiku adalah baik.

Jadi, jangan pernah menyerah atau berputus asa, karena di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Dialah satu-satunya pengharapan kita yang sejati.

Oleh Debora, Bandung

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *