Nyaris Mati Karena Bunuh Diri, Namun Tuhan Memberiku Kesempatan Kedua

Nyaris Mati Karena Bunuh Diri, Namun Tuhan Memberiku Kesempatan Kedua
Oleh Raphael Zhang, Singapura 
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Time I Attempted Suicide

Obat-obatan dan pecahan kaca, air mata dan darah, ketakutan dan putus asa. Itulah gambaran dari malam yang paling kelam dalam hidupku. Sejujurnya, aku tak ingin mengakhiri hidupku sendiri saat itu. Tapi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan di hari esok. Aku pikir lebih baik mengakhiri segala penderitaan hari itu daripada harus menghadapi penderitaan lainnya. Akhirnya, aku berbaring di atas kasur, menenggak obat-obatan, menyayat tubuhku, dan membiarkan darah mengalir keluar. Kupikir malam itu, di usia ke-19 tahun, aku akan terlelap untuk selamanya.

Dua tahun sebelum peristiwa malam itu, aku masuk ke sekolah menengah. Aku merasa begitu stres dan semangat belajarku pun hilang. Nilai-nilaiku menurun, membuatku makin tidak termotivasi untuk belajar. Aku banyak menghabiskan waktu dengan tidur dan mood-ku selalu buruk. Dalam beberapa kesempatan, aku melukai diriku sendiri karena kupikir rasa sakit fisik yang kualami ini adalah satu-satunya cara untuk mengekspresikan dan mengatasi sakit dalam batinku. Aku tak tahu bagaimana persisnya perasaanku saat itu.

Beberapa bulan kemudian, setelah ujian sekolah usai dilaksanakan, aku menerima sebuah surat dari Departemen Pertahanan. Isi dari surat itu adalah aku harus mengikuti Wajib Militer (Wamil) yang diwajibkan oleh negaraku kepada para pemuda. Sejak saat inilah hidupku mulai terpuruk.

Aku bukanlah seorang lelaki yang bertubuh atletis dan menyukai latihan fisik. Kedua orangtuaku seringkali memberitahuku kalau aku tidak melatih tubuhku secara fisik, aku tidak akan mampu menuntaskan kerasnya Wamil. Sekarang, aku mengerti bahwa maksud kedua orangtuaku memotivasku itu baik. Akan tetapi, sepanjang masa remajaku, aku mengabaikan nasihat mereka. Aku menganggap diriku tidak cocok dan tidak mungkin bertahan untuk hidup dalam dunia kemiliteran.

Masa-masa ketika aku duduk di sekolah menengah bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Aku berjuang keras karena aku tidak dapat membaur dengan teman-teman lelaki di kelas. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku tertarik dengan sesama lelaki. Dunia militer adalah dunia laki-laki yang maskulin, dan aku pun takut bagaimana respons mereka apabila mereka tahu bahwa aku adalah seorang gay. Ketakutan ini semakin menjadi-jadi tatkala waktu pendaftaran Wamil semakin dekat.

Kepada Tuhan, aku memohon dengan memelas supaya Dia berkenan memberikan mukjizat dan aku bisa terbebas dari Wamil. Aku mencoba tawar-menawar dengan Tuhan. Jika Tuhan mengabulkan permintaanku, aku berjanji akan melakukan hal-hal tertentu sebagai gantinya. Setiap malam, di atas kasur, pikiranku kalut. Saat tengah malam, aku terbangun, berdoa sekali lagi memohon supaya Tuhan meluputkan aku dari Wamil.

Hari demi hari berlalu, tapi tidak ada hal apapun yang terjadi. Untuk terakhir kalinya, aku bertemu dengan teman terdekatku di sekolah, mencari cara-cara terampuh untuk bunuh diri, kemudian menulis surat sebagai pesan terakhir untuk keluargaku. Saat-saat itu, hatiku dipenuhi oleh ketakutan dan pikiran-pikiran gelap terus menggangguku. Di satu sisi, aku tidak ingin mengakhiri hidupku. Tapi, di sisi lainnya, aku percaya bahwa bunuh diri adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari situasi yang amat kutakuti. Pikiranku bertanya-tanya: apakah Tuhan akan mengampuniku jika aku memlih bunuh diri? Apakah bunuh diri itu dosa yang bisa diampuni, atau sesuatu yang sangat kejam hingga aku harus dihukum di neraka?

Hari pendaftaranku di Wamil pun datang. Tidak ada mukjizat apapun yang terjadi. Sepanjang malam aku menunggu sampai seluruh anggota keluargaku tidur untuk melakukan niatan bunuh diriku. Di atas kasur, aku meletakkan harapanku kepada obat-obatan yang akan kutenggak dan pecahan kaca yang akan menyayat tubuhku. Di saat itu juga aku bertanya-tanya: akankah nanti aku melihat Allah?

Kutenggak obat-obatan itu dan kusayat tubuhku hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.

Ketika aku membuka mata, orang pertama yang kulihat adalah ibuku. Dia menangis sejadi-jadinya di bawah ranjangku. Perlahan, akhirnya aku menyadari bahwa aku sedang berada di rumah sakit. “Sial!” umpatku.

Usaha bunuh diriku tidak berhasil. Aku masih hidup. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kasih Seorang Bapa

Dalam masa-masa pemulihanku, aku mendapati bahwa ternyata aku begitu dicintai. Sebelum aku mencoba bunuh diri, aku tahu bahwa kedua orangtuaku mengasihiku, tapi aku hanya sekadar tahu tanpa mengganggap bahwa kasih mereka kepadaku itu nyata. Ketika aku melihat ibuku menangis, barulah aku sadar bahwa dia sungguh-sungguh mempedulikanku lebih dari apa yang kutahu. Aku juga belum pernah melihat ayahku dan nenekku begitu khawatir dan kecewa sebelumnya.

Seorang teman dekatku di sekolah juga datang menjengukku. Katanya, untuk menyelamatkanku, tim medis berusaha mengeluarkan obat-obatan yang sebelumnya sudah kutenggak. Seorang guruku juga datang menjenguk, dan aku terkejut melihatnya menangis. Dia membacakanku ayat Alkitab dari Mazmur 121 untuk meyakinkanku bahwa Tuhan selalu menjaga dan menolongku. Setelah aku boleh pulang dari rumah sakit, semua kerabatku datang menjengukku, mencurahkan perhatian dan memberiku nasihat. Aku tidak pernah menyangka bahwa orang-orang di sekitarku ternyata begitu mempedulikanku.

Aku ingat hari ketika keluargaku membawaku pulang dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Aku masuk ke kamar dan terduduk di atas kasurku. Tak lama kemudian, ayahku datang sambil membawa sebuah tas. Di dalamnya terdapat beberapa catatan yang kutulis sebagai pesan terakhirku kepada keluarga. Dia memberiku tas itu dan berkata, “Ambil ini, dan anggap kejadian ini tidak pernah terjadi.”

Dari perkataannya, aku mengerti bahwa ayahku sungguh mengasihiku. Mungkin cara ayahku berkata-kata hari itu adalah cara yang paling tenang dan lembut yang pernah dia ucapkan untukku. Atau, mungkin juga dia ingin menunjukkan kebaikannya kepadaku. Di hadapanku, Ayah memberikan sebuah hadiah, yaitu kasih untuk menjalani hari-hariku di depan. Ketika dulu aku pernah berdoa meminta mukjizat, mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan.

Apa yang ayahku lakukan adalah sebuah gambaran sederhana dari apa yang Bapa Surgawi lakukan buatku: Allah menghapus dosaku dan memberiku kesempatan baru jika aku mau menerima Yesus dan percaya pada-Nya. Mungkin kisah hidupmu berbeda denganku, tetapi kasih dan anugerah Bapa untuk kamu dan aku tetap sama, terlepas dari apapun permasalahan atau masa lalu kita. Allah mau menyembuhkan dan memulihkan kita, sebab Dialah yang berkuasa atas hidup.

Dua tahun setelah kejadian percobaan bunuh diriku, aku menemui seorang psikiater. Dia menolongku untuk menyadari bahwa sejak SMP aku sudah mengalami depresi, dan depresi ini bertambah parah menjelang hari pendaftaranku masuk ke Wamil—sesuatu yang amat kutakuti tapi tak bisa kuhindari. Selama beberapa waktu, dengan melakukan meditasi, konseling, dan dukungan dari komunitas Kristen, aku berubah jadi lebih baik.

Jadwalku untuk bergabung dengan Wamil diundur sampai beberapa bulan. Selama mengikuti Wamil, aku mengalami betapa besar kesetiaan Tuhan atas hidupku, terutama saat melewati tahun-tahun yang berat. Aku belajar untuk mengenal-Nya lebih dalam, karena dari Dia sajalah pertolonganku datang (Mazmur 121:1-2), Dia yang selalu menjagaku dari marabahaya (Mazmur 121:3-8).

Hari ini, walaupun luka itu telah pudar, kamu masih tetap dapat melihat luka itu di bawah lengan kiriku. Tetapi, karena kasih karunia dan pengampunan dari Allah yang diberikan melalui penderitaan Yesus di kayu salib, aku dapat mengingat anugerah Tuhan bagiku setiap kali aku melihat luka itu (Yesaya 53:5).

Oleh Raphael Zhang, Singapura 

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *