Menu Tutup

Mengapa Aku Tidak Puas dengan Hidupku?

Mengapa Aku Tidak Puas dengan Hidupku?

Oleh Priscilla Stevani.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Life Lesson in an Elevator.

Suatu pagi, aku sedang turun dari lantai 27 menggunakan lift.

Di lantai 19, lift itu berhenti. “Selamat pagi,” sapa seorang turis kepadaku sembari membawa segala barang bawaannya. “Selamat pagi” jawabku sambil tersenyum. “Andai saja aku bisa seceria turis ini dan libur seharian,” pikirku saat itu.

Lift yang kutumpangi berhenti lagi di lantai 15. Seorang anak sekolah dan ibunya memasuki lift. “Andai saja aku bisa bertukar posisi dengan anak sekolah ini,” pikirku kembali. Aku yakin bahwa setidaknya hidup anak ini masih lebih mudah dibandingkan hidupku. Toh, yang perlu dikhawatirkan anak ini kurasa hanya hal-hal sepele seperti pekerjaan rumah, ujian, dan pacar mereka.

Lift yang kutumpangi kembali berhenti untuk ketiga kalinya. Kali ini lift berhenti di lantai 10. Seorang pria yang memakai jas memasuki lift. Pria ini membawa koper dan ekspresi wajahnya terlihat lelah. Aku berpikir bahwa mungkin hidup pria ini masih lebih baik dibandingkan hidupku. Sudah lama sebenarnya aku ingin menjadi seorang pegawai kantoran yang punya jam kerja tetap, cukup duduk di kursi sambil menatap layar komputer. “Setidaknya pria ini tidak usah bekerja ketika shift malam di rumah sakit atau bekerja 24 jam tanpa henti dalam sekali waktu,” pikirku.

Tidak pernah ada hari yang santai apabila kamu bekerja di rumah sakit. Aku merasa sangat stres karena pekerjaanku ini berhubungan dengan keselamatan nyawa manusia. Sebagai dokter, aku harus mengambil keputusan yang menyangkut nyawa seseorang, dan akupun harus bertanggungjawab atas keputusan itu. Kadang, ketika aku sudah sampai di rumah, aku masih bertanya-tanya di dalam hati apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat? Apakah aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka? Adakah kesalahan yang kubuat? Pikiran-pikiran seperti ini seringkali membuatku merasa semakin lelah.

Tidak biasanya lift yang kutumpangi begitu ramai. Di tengah kepadatan itu, aku mengamati orang-orang di sekitarku dan membayangkan apabila aku berada di posisi mereka. Tapi, aku bertanya-tanya, apakah mereka juga berpikir sepertiku? Bisa saja anak sekolah itu berpikir bahwa hidup orang lain masih lebih baik dari hidupnya sendiri. Atau mungkin saja pegawai kantoran itu berharap untuk menjadi seperti diriku.

Lalu aku pun terpikir: Apakah aku tidak bersukacita karena aku terus membandingkan hidupku dengan hidup orang lain? Di dalam Amsal 14:30 tertulis: Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Suka membanding-bandingkan malah membuatku merasa tidak pernah puas dengan hidupku. Bukan manfaat yang kudapat, tapi hanya rasa lelah yang semakin menjadi. Ketika kita tidak puas dengan hidup kita dan terus-menerus membandingkannya dengan hidup orang lain, kita malah akan semakin tidak bersukacita. Kita akan gagal menyadari bahwa Tuhan memberikan kepada setiap orang masing-masing salib yang harus ditanggungnya.

Pada saat itulah aku sadar bahwa aku harus berhenti membanding-bandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Aku cukup fokus menanggung beban yang telah Tuhan berikan kepadaku. Memang tidak mudah, tapi aku tahu bahwa Tuhan pasti menolongku. Aku juga menyadari bahwa ketika aku berhenti mengecek akun media sosialku serta berhenti membandingkan hidupku dengan apa yang kulihat di sana, itu menolongku untuk berhenti membanding-bandingkan diriku dengan orang lain.

Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, suara langkah kaki dari orang-orang yang keluar membuatku melirik ke sepatu yang tengah kupakai. Ada tanggung jawab yang harus kuemban. Ada salib yang harus kupikul. Namun, aku bersyukur karena aku tahu aku tidak akan pernah sendiri. Ada Yesus yang selalu menyertaiku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *