Menu Tutup

[Kisah Nyata] Mengampuni adalah perbuatan kasih terbesar!

Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang ~Ibrani 12:15

Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan perlahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.

Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”

Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”

Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”

“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”

Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. Van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya hingga pingsan. Kemudian, mereka yang berada di gedung pengadilan – teman, keluarga, dan tetangga – korban penindasan dan ketidakadilan serupa – berdiri dan bernyanyi “Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me. I once was lost, but now I’m found. ‘I was blind, but now I see. (Anugerah yang ajaib, sungguh merdu suara yang telah menyelamatkan orang yang malang seperti saya. Saya pernah hilang, tetapi sekarang saya ditemukan. Saya pernah buta, tetapi sekarang saya melihat)”.

Betapa luar biasanya kasih yang mengalir kepada orang yang kita ampuni. Saat kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, ada kasih dari Sorga mengalir dalam diri orang tersebut.

SUSAH ATAU MUDAH MENGAMPUNI?

Membaca kisah ini  membawa saya pada kisah seorang hamba dalam Alkitab yang diampuni oleh seorang raja (Mat 18:21-35). Hamba pertama dengan hutang 10.000 talenta dihapuskan hutangnya oleh raja tersebut. Sayangnya ia tidak mau mengampuni seorang hamba lain yang hanya berhutang 100 dinar. Mengapa ia begitu sulit mengampuni? Karena ia tidak pernah sadar bahwa ia telah diampuni.

Beberapa orang menjadi sukar untuk mengampuni sebab ia lupa bahwa ia telah lebih dahulu diampuni! Jika Tuhan sudah mengampuni dosa kita yang lebih besar dari dosa kita ke orang lain, mengapa kita begitu sukar mengampuni?

Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? ~Matius 18:33

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mengampuni itu menjadi sukar, jika dilakukan dengan kekuatan sendiri. Mengasihi dan mengampuni adalah perbuatan illahi! Seorang baru benar-benar bisa mengampuni saat sadar bahwa ia mempunyai dosa yang lebih besar yang telah diampuni oleh Tuhan. Di titik itu, akan mengalir kasih dari Sorga dalam hatinya, yang memampukan ia untuk mengampuni orang lain.

Alkitab mencatat 2 dosa yang tidak dapat diampuni jika dilakukan, yaitu menghujat Roh Kudus dan tidak mau mengampuni.

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu. ~Matius 18:34-35

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. ~Matius 6:14

Saudara, Tuhan kita adalah Kasih. Yesus berkata kamu benar-benar adalah muridKu jika kamu saling mengasihi. Inilah adalah sebuah prinsip hidup tertinggi yang tidak pernah diajarkan oleh agama manapun! Dunia megajarkan supaya kita balas dendam, tetapi ingat, jika “balas dendam” itu begitu manis, lantas mengapa rasa pahit yang ditimbulkannya begitu teramat dalam?

Sikap tidak mau mengampuni tidak pernah menyakiti orang yang anda musuhi. Sikap itu justru akan merusak anda sendiri! Bahkan, akar pahit yang disimpan dalam hati bisa menyebabkan penyakit ganas seperti kanker mengerogoti tubuh anda.

Dengan mengampuni, anda membebaskan diri anda dari setiap tekanan batin yang menyita banyak hal dalam hidup anda!

Sumber Kesaksian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *