Ketika Pernikahan Tidak Mengubahkan Hidupku

Ketika Pernikahan Tidak Mengubahkan Hidupku
Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Thought Marriage Could Change Me

“Jangan digaruk lagi! Kalau kamu bisa berhenti menggaruk kulitmu, kamu akan jadi cantik seperti anak-anak perempuan lainnya!” Itulah yang perkataan yang sering diucapkan ibuku seiring dengan aku tumbuh dewasa.

Aku menderita eksim, suatu penyakit yang membuat kulitku menjadi merah, pecah-pecah, gatal, dan penuh luka seperti luka melepuh. Ibuku sangat khawatir, apabila nanti kulitku tidak benar-benar pulih, maka kecil kemungkinanku untuk menikah karena tidak ada laki-laki yang menginginkanku.

Walaupun kondisi kulitku semakin membaik seiring aku beranjak dewasa, tapi kulitku masih tetap kering dan kemerahan bila dibandingkan dengan kulit perempuan lainnya. Kekhawatiran yang dulu dialami ibuku pun jadi kekhawatiranku juga. Aku khawatir dengan penampilanku. Rasa khawatirku akan kondisi fisikku ini pada akhirnya membawaku pada suatu kesimpulan: solusi dari permasalahanku adalah menemukan seorang lelaki yang mau menerimaku dan menikahiku.

Lalu, aku pun berimajinasi tentang pernikahan dan percaya bahwa itu dapat mengubahku sepenuhnya. Tapi, kenyataannya tidaklah demikian. Bukan pernikahan yang dapat mengalahkan segala rasa takut itu, melainkan cinta sejati. Aku berpikir bahwa dengan menikah nanti aku akan berhenti menganggap rendah diriku sendiri, berhenti menjadi orang yang temperamental, dan aku akan dicintai dan diterima apa adanya.

Di pertengahan usiaku yang ke-20, aku bertemu dengan seseorang yang istimewa. Dia menerima kondisi kulitku yang kemerahan dan kering, dan segera setelah itu dia pun menjadi suamiku. Aku sangat bangga karena pada akhirnya aku menikah. Aku merasa aman dengan statusku yang baru seakan aku sudah terpilih dari sekian banyak gadis lainnya.

Namun, rasa kenyamanan dalam status baruku itu tidak bertahan lama. Pernikahan hanya memberiku rasa aman yang semu.

Di awal pernikahanku, aku mulai melihat bahwa aku dan suamiku ternyata tidak memiliki banyak kesamaan. Ketika kami berpacaran dulu, aku berusaha terlalu keras untuk terus mengalah demi mencapai kata sepakat. Aku tidak pernah benar-benar menyuarakan apa yang aku inginkan.

Kami adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Suamiku suka suka menonton ke bioskop sementara aku sering tertidur saat film diputar. Dia lebih suka makanan Barat, sedangkan aku lebih suka makanan Asia. Setiap kali kami pergi berkencan dan harus memutuskan sesuatu, ujung-ujungnya kami malah berkonflik. Saat di rumah, dia suka menonton TV sampai larut malam, sedangkan aku lebih memilih untuk tidur di jam sepuluh. Dia seperti tidak peduli dengan kerapian, sedangkan bagiku kerapian itu merupakan hal yang penting.

Kami berdua terlalu keras kepala untuk mengalah dan pertengkaran kami seperti tidak ada ujungnya. Ketika anak kami lahir, kami malah jadi semakin sering bertengkar dan sifat temperamentalku pun semakin bertambah parah. Bahkan, kekesalan sedikit saja bisa membuat emosiku memuncak dan menjadi sangat marah. Membanting pintu sudah menjadi suatu kebiasaanku di rumah, bahkan suatu ketika aku pernah melempar iPad ke lantai saking aku begitu marahnya. Konflik yang terjadi setiap harinya membuat emosiku sangat terkuras.

Sebelumnya, aku pernah berpikir bahwa pernikahan itu akan melengkapiku dan memberiku rasa aman. Aku pikir aku akan menjadi pribadi yang lebih sabar dan mencintai setelah menikah. Namun, ternyata aku benar-benar salah. Pernikahan malah membuatku merasa tidak dicintai, bahkan aku menyesal karena telah menikah. Aku sangat terluka dan takut akan masa depan, terutama karena sekarang aku memiliki tanggung jawab atas seorang anak. Pikiran akan perceraian menggantung di benakku dan aku bertanya-tanya: apakah aku mampu jika harus hidup sebagai seorang single mom?

Hal ini terus berlangsung selama berbulan-bulan sampai seorang kakak rohaniku datang menghampiriku dengan penuh kasih dan mengarahkanku kepada firman Tuhan. Aku menemukan sebuah ayat dari materi pendalaman Alkitab yang aku ikuti. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Cinta sejati awalnya datang dari Tuhan dan kami (aku dan suamiku) sungguh-sungguh memerlukan Tuhan dalam hidup kami. Kami perlu memahami dan menerima kasih Tuhan sebelum kami bisa memberikan kasih yang sama kepada sesama. Hanya kasih Allah yang mampu memulihkan dan melepaskan tekanan yang kami hadapi dalam pernikahan kami.

Seiring aku mempelajari Alkitab, sebuah ayat lain yang menyakinkanku adalah dari Yakobus 4:1:

“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?”

Aku menyadari bahwa akar permasalahan dari pertengkaran-perengkaran kami adalah karena aku terlalu terfokus pada apa yang aku inginkan. Aku telah meletakkan keinginan dan kepentinganku di atas kepentingan suamiku. Alih-alih menjadikan Allah sebagai pusat dari kehidupan pernikahanku, aku malah menjadikan diriku sendiri sebagai pusatnya. Dan, itulah yang menghalangiku untuk menunjukkan kasih yang sejati kepada suamiku, seperti yang Allah telah tunjukkan kepadaku.

Di situlah titik balik kehidupanku. Aku berpaling kepada Allah dan memohon pertolongan Roh Kudus agar aku dapat melihat bahwa sesungguhnya aku berharga di mata Allah. Aku juga meminta kekuatan untuk dapat mengendalikan diriku di saat-saat yang mengarah kepada konflik. Perlahan-lahan, aku mulai bisa menguasai emosiku dengan lebih baik, dan kami jadi lebih jarang bertengkar.

Saat ini, relasiku dengan suamiku sudah membaik karena kehadiran dan campur tangan Allah di dalamnya. Melalui pengalamanku, aku sadar bahwa pernikahan tanpa Allah sebagai pusat segalanya tidak akan pernah bisa mengubah seseorang. Sebuah pernikahan yang dibangun atas dasar kekuatan manusia untuk mengerjakan semuanya tidak akan pernah berhasil karena kita adalah manusia penuh dosa yang menjadi mangsa dari keinginan dosa kita sendiri.

Kita perlu Seseorang yang lebih kuat dari kita supaya kita bisa berhasil. Kita perlu Tuhan.

Sumber

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *