Menu Tutup

Kehidupan Setelah PHK

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kesaksian oleh Peggy A. Roberts. Maine, USA
Artikel ini pertama kali diterbitkan pada Disciple Journal .

Saya tinggal bersama suami dan tiga orang anak saya di rumah tua berusia 170 tahun dekat sebuah danau di Provinsi Maine, Amerika Serikat. Saya sangat mencintai tempat ini dan terkadang merasa takut, sehingga sangat sulit bisa melepaskannya atau pindah ke tempat lain.

Ketakutan itu telah menjadi bagian dari perjuangan saya sejak suami saya, Kevin, baru-baru ini diberhentikan dari pekerjaannya. PHK ini bukan yang pertama baginya. Dia adalah karyawan yang sangat baik, namun Kevin bekerja di sebuah industri di mana pengurangan tenaga kerja biasa terjadi.

Saya ingin berbagi dengan Anda beberapa prinsip yang telah Tuhan tunjukkan kepada saya selama situasi sulit ini. Saya ingin memberi tahu Anda bahwa bertindak berdasarkan prinsip-prinsip ini sepertinya mudah—apalagi setelah kena PHK ketiga kalinya, Anda akan berpikir saya pasti bisa melakukannya dengan benar. Tetapi seperti hal lainnya, prinsip-prinsip ini juga membutuhkan latihan. Kita harus belajar mengepakkan sayap sebelum terbang.

1. Menawarkan Dukungan

Prinsip pertama yang tampak paling sederhana adalah memberikan dukungan kepada pasangan Anda. Galatia 6:2 memberitahu kita untuk “saling memikul beban.” Sederhana pada awalnya, mungkin. Namun, mendukung pasangan Anda secara emosional hari demi hari, ketika Anda berdua sedang melalui proses yang sulit, dapat membutuhkan usaha yang luar biasa.

Untuk memberikan situasi positif yang berkelanjutan, sangat penting untuk berkomunikasi. Ini tampaknya sangat mendasar, tetapi kondisi stres dapat membuat Anda tidak yakin apa yang harus dikatakan atau bagaimana mengatakannya.

Saya ingat saat-saat ketika dalam kesedihan kami, tampaknya lebih mudah untuk diam dan tidak mengatakan apa pun satu sama lain. Dalam beberapa hari, bahkan berjam-jam setiap harinya, kesunyian membuat tirai ketidakpastian dan penolakan di antara kami.

Komunikasi menjadi lebih sulit karena kami berjuang untuk memahami dan meluruskan apa yang telah disalah artikan dalam masing-masing pikiran kami. Kami belajar bahwa tidak mengatakan apa-apa (saling berdiam diri) justru meninggalkan terlalu banyak hal untuk disalahpahami.

“Seseorang menemukan sukacita dalam memberikan jawaban yang tepat—dan betapa baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” —Amsal 15:23 

Sekarang ketika saya melihat suami saya lebih memilih diam, saya mencoba untuk segera “melawannya”. Saya mendorongnya untuk membagikan pemikirannya. Terkadang saya berbagi cerita terlebih dahulu. Karena jika mengatakan perasaan saya dahulu, maka akan membantunya untuk mengungkapkan kata-katanya sendiri. Tetapi saya harus selalu waspada agar tidak terlalu fokus hanya mengekspresikan diri sendiri, sehingga saya tidak memberinya banyak ruang kesempatan untuk merespon dan bercerita.

2. Mengandalkan Tuhan, Bukan Pekerjaan.

Sementara komunikasi yang bermakna dan teratur dengan pasangan Anda sangat penting untuk menanggung beban satu sama lain, komunikasi yang konsisten dengan Tuhan memungkinkan Anda untuk memercayai kemampuan dan kesediaan-Nya untuk menyediakan solusi.

Ketika saya akhirnya mampu, melalui doa dan dengan sadar memberi Tuhan beban yang saya rasakan atas kondisi pengangguran Kevin, Tuhan melepaskan banyak keputusasaan yang membebani saya. Kemudian itu, pada waktunya, memungkinkan saya untuk lebih mendukung dan memberi semangat kepada suami saya. Itu memberikan kelonggaran dari beban kekhawatiran. Saya tahu bahwa Tuhan memberi makan burung-burung di danau dekat rumah kami; Dia akan melakukan hal yang sama untuk kami sekeluarga.

Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan p  oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? —Lukas 12:24–26

Meskipun saya berada pada titik di mana saya selalu khawatir, saya tahu bahwa Tuhan telah membuktikan penyertaan-Nya berulang kali. Dia telah memberi kita makan secara rohani, sering mengejutkan saya melalui support seorang teman pada saat yang tepat atau ketika saya membaca Alkitab.

Tuhan juga telah menyediakan kebutuhan materi kita. Pertama kali Kevin kena PHK, kami berada dalam kondisi mulai kehabisan uang dan saat itu juga Tuhan memberinya pekerjaan. Walaupun kemudian perusahaan memberikan informasi bahwa proyeknya dibatalkan, namun mereka tetap membayarnya dan menjadi solusi keuangan kami yang kuat sampai Kevin dapat menemukan pekerjaan selanjutnya. Meskipun tidak seperti yang kita duga, Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan saat kita membutuhkannya.

3. Lakukan Dengan Strategi dan Terjadwal

Berserah sepenuhnya di dalam Tuhan bukan berarti santai dan bebas dari tanggung jawab. Sebaliknya, Kevin dan saya telah belajar bahwa kami harus berkomitmen pada strategi dalam mencari kerja dan jadwal yang teratur.

Ada waktu untuk merenung atas pekerjaan yang telah hilang namun kemudian tiba saatnya untuk mencari yang ingin Anda temukan. Jangan menghalangi pencarian ini dengan beban di pundak Anda. Lanjutkan dengan tugas yang harus dilakukan agar siap dipekerjakan: menyempurnakan CV Anda, mengirim surat lamaran, membuat panggilan telepon, dan menjadwalkan janji temu.

Mengikuti jadwal harian akan membantu Anda menjadi lebih energik dan positif. Rencanakan waktu untuk teman, renungan, dan olahraga. Kedengarannya simpel, tetapi Anda harus terus bangun di pagi hari dan bersiap diri. Bersantai sambil hanya duduk-duduk adalah kebiasaan yang nyaman namun tidak menghasilkan sesuatu produktif. Ketika pagi kita dimulai dengan baik, itu membantu kita mempersiapkan hari yang baik.

Ingatlah, saat Dia memurnikan rencana Anda, Anda memiliki jaminan-Nya: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” — Yeremia 29:11

4. Manfaatkan Waktu Bersama-Sama

Nikmati kebersamaan dengan pasangan Anda, percayakan Tuhan untuk menguatkan pernikahan Anda. Jangan sampai dana yang berkurang menghalangi Anda untuk bahagia bersama. Pergi keluar untuk minum kopi atau makan malam bersama, refreshing, wisata di taman, dan sebagainya. Tentu dengan biaya yang terukur sesuai kebutuhan.

Dalam waktu Anda bersama, berhati-hatilah untuk membangun satu sama lain, jangan pernah saling menjatuhkan: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” Efesus 4:29 

Kadang-kadang, saya berjuang dengan sindrom “mengapa Aku tidak begini begitu seperti mereka” atau penyakit “Aku seharusnya punya ini dan itu“. Jika saya tidak melawan, maka saya bisa saja terjebak dalam kritik yang negatif terhadap suami saya. Berdoalah melawan semangat kritis diri sendiri yang dapat menipu rasa kebersamaan dengan pasangan Anda yang indah.

5. Tetaplah Percaya

Beberapa orang menolak Tuhan setelah PHK, menyimpulkan bahwa Dia tidak peduli; yang lain menjadi marah kepada-Nya, menyimpulkan bahwa Dia tidak mengerti.

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”. —1 Petrus 5:6–7

Saya tidak bisa mengatakan bahwa merendahkan diri adalah reaksi pertama saya ketika dihadapkan dengan PHK Kevin yang kesekian kalinya. Tetapi penyerahan diri ini melucuti saya dari sikap diri dan membebaskan saya dari belenggu kebohongan tentang hidup yang mapan dan mampu. Saya merasa diperhatikan, saya merasa aman, saya merasa dikuatkan oleh pengetahuan bahwa Bapa surgawi bermaksud melakukan yang terbaik bagi kita, meskipun itu menyakitkan.

Ketika seekor elang terbang melintasi danau dekat rumah kami, dia harus melakukan bagiannya untuk tetap tinggi: Dia harus melebarkan sayapnya dan mengarahkannya ke angin. Demikian juga, kita perlu melakukan bagian kita untuk terbang di atas cobaan pengangguran. Namun kita juga harus percaya kepada Tuhan untuk menopang kita.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. — Yesaya 40:31

Saat kita memperoleh keyakinan dari kasih dan anugerah yang diberikan oleh Bapa kita di Surga, kita juga dapat melambung, dengan kekuatan yang diperbarui, bahkan di tengah-tengah kondisi sulit seperti pemutusan hubungan kerja.

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kolom Komentar!

Berikan komentar sesuai Pedoman Kami

Baca Artikel Lainnya