Menu Tutup

Karena Imanku pada Yesus, Aku Ditolak oleh Teman-temanku

Oleh Dilla*, Surabaya

Aku dibesarkan di dalam keluarga yang belum semuanya mengenal Yesus. Hanya ayahku seorang yang sudah mengenal Yesus terlebih dulu, namun dia tidak menghidupi imannya dengan sungguh-sungguh. Ayahku hampir tidak pernah beribadah ke gereja selain di hari Natal dan Paskah saja. Jadi, ibuku dan nenekku mendidikku untuk mengimani iman bukan Kristen yang mereka anut.

Sedari aku kecil, aku diajari untuk berdoa dalam cara mereka. Mereka juga menyekolahkanku di sekolah dengan basis keagamaan yang kuat. Aku menerima iman yang diajarkan ibu dan nenekku ini dengan baik hingga suatu ketika ibuku diajak oleh temannya yang adalah orang Kristen untuk datang ke acara Natal. Mulanya ibuku enggan hadir. Tapi, untuk menghormati keyakinan ayahku, ibuku pun akhirnya datang dan turut mengajakku.

Waktu itu aku baru duduk di kelas dua SD. Datang ke acara umat Kristiani itu terasa asing buatku. Bahkan, aku menganggap cara ibadah orang Kristen itu aneh. Namun, ada satu yang menarik hatiku. Pendeta menyampaikan firman Tuhan singkat. Katanya, Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia, lahir ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Yesus datang dalam kesederhanaan, Dia lahir di kandang domba. Hatiku tersentuh, tapi juga bertanya-tanya. Apakah Tuhan Yesus yang diceritakan oleh pendeta itu sungguh benar?

Dalam iman yang kuanut saat itu, Tuhan Yesus itu digambarkan jauh berbeda dengan apa yang pendeta itu katakan. Aku pun jadi penasaran dan setelah ibadah itu usai aku merasa seperti ada yang mengganjal di hatiku. Di tengah rasa penasaranku itu, suatu ketika aku jatuh sakit dan malamnya aku bermimpi didatangi oleh sosok yang bersinar dan menorehkan senyum kepadaku. Setelah aku terbangun, sepertinya aku tahu siapa sosok yang ada dalam mimpi itu. Aku pun mulai belajar berdoa dengan menyebut nama Tuhan Yesus.

Singkat cerita, hal ini diketahui oleh teman ibuku yang Kristen. Dia kemudian mengajakku untuk ikut sekolah Minggu di gerejanya. Aku pun tertarik dan mengiyakan ajakan itu. Ketika masuk ke gereja, aku masih merasa asing. Tapi, orang-orang di sana ramah dan murah senyum. Ketika ibadah dimulai, entah kenapa aku merasa seperti merinding tapi aku ikut menyanyi dan memuji Tuhan meski aku sebelumnya tidak pernah mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan.

Sejak saat itu, aku bersemangat untuk datang ke gereja sambil tetap menjalankan kewajiban agamaku yang lama. Tapi, kehadiranku di gereja itu suatu saat terlihat oleh seorang temanku dan dia menceritakannya ke teman-temanku yang lain dan juga guru agamaku.

Saat pelajaran agama, aku dikatai atheis dan tidak diperkenankan ada di kelas. Kata mereka aku telah mempermainkan agama dan seperti anjing penjilat. Hatiku hancur, aku menangis, dan aku berkata dalam hati: apakah mengikut Yesus harus seperti ini? Di usiaku yang masih kecil itu, aku merasa perlakuan yang kuterima ini begitu berat hingga aku pun bingung harus berbuat apa dan bertanya-tanya kepada siapakah seharusnya aku percaya.

Kemudian, seperti biasa aku tetap datang ke sekolah Minggu dan saat itu guruku bercerita tentang firman Tuhan dari Lukas 9:22-24, bahwa Anak Manusia telah lebih dulu menderita sebelum kita. Bukan suatu kebetulan apabila hari itu guru sekolah Mingguku membahas tentang penderitaan. Dan, di sinilah, meski sehari-harinya aku mengalami penolakan, aku malah merasa dikuatkan dan memperoleh sukacita untuk menghadapi hari-hariku. Ketika aku ditolak karena imanku pada Tuhan Yesus, aku hanya bisa berdoa supaya mereka yang menolak itu dapat mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Aku pun berdoa untuk orangtuaku supaya mereka dapat sungguh-sungguh menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya.

Meski teman-teman menolakku karena imanku, tapi aku bersyukur karena ibuku mendukungku. Saat itu karena pernah diajak oleh temannya yang Kristen pergi ke gereja, ibuku mulai membuka dirinya terhadap iman Kristen. Ketika aku menangis kepadanya dan berkata bahwa aku tidak kuat mental dan ingin pindah sekolah, Ibu menguatkanku hingga akhirnya aku dapat lulus dari SD ini.

Aku mengucap syukur karena lawatan Tuhan yang boleh terjadi dalam kehidupanku dan keluargaku. Belakangan, ibuku bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Kehidupan ibuku pun berubah. Ibuku jadi lebih sabar dan selalu bersyukur untuk banyak hal. Ibuku juga mulai belajar membaca Alkitab dan beribadah ke gereja.

Perubahan inilah yang turut menginspirasi Ayah yang sejak semula sudah mengenal Tuhan Yesus untuk menjalani kehidupan imannya dengan lebih sungguh-sungguh. Ayah pun mulai mau ikut beribadah ke gereja bersama-sama. Sekarang, kami sekeluarga telah percaya kepada Tuhan Yesus dan setiap malam kami selalu meluangkan waktu untuk berdoa bersama.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Efesus 1:4).

Melalui tulisan kesaksian singkat ini, aku ingin menyampaikan bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Jika saat ini ada di antara kamu yang mengalami penolakan karena imanmu, janganlah goyah dan gentar, sebab Tuhan selalu menyertai dan memberimu kekuatan untuk melalui semuanya ini.

*Bukan nama sebenarnya

Oleh Dilla*, Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *