Menu Tutup

Jangan Sia-siakan Waktu Menunggumu!

Oleh Jalen Galvez, Filipina
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Don’t Waste Your Waiting

Tahun 2016, ibuku didiagnosis kanker payudara stadium empat.

Ketika aku mendengar kabar ini, aku bertanya-tanya mengapa pada Tuhan. Ada banyak pertanyaan dalam benakku, dan aku tidak bisa tidak memikirkannya. Sulit bagiku untuk menghadapi situasi yang akan aku dan keluargaku hadapi, karena ini bukanlah sesuatu yang kami harapkan terjadi. Imanku pun terguncang. Mengapa harus ibuku?

Menunggu adalah hal yang sulit, terlebih ketika kita tidak tahu bagaimana jawaban dari doa-doa kita kelak. Aku bergumul selama masa-masa itu, aku susah payah menginginkan jawaban dari Tuhan apa alasan dan tujuan dari semua peristiwa ini. Aku meragukan-Nya, karena aku tidak tahu kapan dan bagaimana Tuhan akan menjawab doaku. Itulah bagian tersulit dari menunggu. Tetapi, seiring aku terus mencari-Nya lewat doa dan firman-Nya, Tuhan menolongku untuk mengerti bahwa di saat aku menunggu, Dia bekerja.

Hari-hari setelah kami mengetahui kondisi ibuku, aku bersaat teduh di perpustakaan. Aku berdoa memohon Tuhan menunjukkan diri-Nya lewat firman-Nya, lalu kubukalah Alkitabku. Hari itu aku membaca Lukas 8:40-56, ketika Yesus menyembuhkan anak Yairus. Dalam Lukas 8:50, Yesus menghibur Yairus, “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.”

Saat membaca ini, aku merasa terhibur. Aku dengan yakin mengimani Tuhan pun akan menyembuhkan ibuku. Lebih penting lagi, aku diyakinkan bahwa Tuhan sanggup bekerja dalam situasi ini dan memberi kita penghiburan jika kita berfokus kepada-Nya. Kita tidak perlu takut dengan keadaan kita sekarang ataupun yang kelak datang.

Ada tujuan dalam menunggu

Aku telah belajar bahwa di tiap momen menunggu, Tuhan punya tujuan. Roma 5:3-5 mengingatkan kita:

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Pencobaan yang kita alami menuntut kita untuk hidup bergantung pada anugerah yang Tuhan sediakan. Melalui pengalaman ini, aku belajar bahwa setiap jam adalah anugerah Tuhan buat kita. Saat aku membuka hatiku kepada firman-Nya dan bertumbuh dalam kasih pada-Nya, aku dikuatkan bahwa apapun yang terjadi, aku dapat berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28).

Seiring kita menanti Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita, ini adalah kesempatan untuk kita bertumbuh dalam kesabaran, membesarkan kapasitas hati, dan menyerahkan hidup kita pada Tuhan. Kali pertama aku menyerahkan hidupku pada Tuhan adalah tahun 2012, ketika aku menjadi orang Kristen dan dibaptis. Selama masa-masa sulit, aku terus mengingatkan diriku lagi dan lagi, “Hey, kamu sudah menyerahkan seluruh hidupmu pada Tuhan, jadi Dia sanggup menyelesaikan masalahmu ini.” Aku perlu selalu mengingatkan diriku, apapun keadaannya, aku selalu bisa meletakkan kepercayaanku pada Tuhan.

Menunggu bukanlah pekerjaan sia-sia. Ketika kita berdoa dan menanti jawaban, marilah kita membuka mata kita akan kebesaran Tuhan. Waktu Tuhan mungkin berbeda dari kita. Pun rancangan-Nya tak memerlukan persetujuan dari kita. Meskipun kita tidak tahu bagaimana doa kita akan dijawab-Nya, marilah kita dengan iman meyakini Tuhan bekerja di dalamnya.

Meskipun kita merasa seperti terombang-ambing dalam samudera ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihan, marilah kita mengingat bahwa Tuhan tahu apa yang Dia sedang lakukan dalam hidup kita. Kadang hanya dengan jatuh ke air yang dalam, kita dapat menengadah kepada Dia yang mampu menyelamatkan kita dari tenggelam—Yesus. Yang diminta Yesus hanyalah kita menantikan-Nya seperti iman seorang anak kecil, percaya bahwa Dialah Bapa yang sangat peduli akan hidup kita.

Ibuku saat ini masih menjalani kemoterapi oral. Inilah jawaban bagi doa-doa kami, karena keluargaku berharap ibu bisa menghindari kemoterapi lewat pembuluh darah. Ini adalah sesi terakhir kemoterapinya. Meskipun sampai saat ini ibuku belum dinyatakan sembuh total dari kanker, kami punya iman dia pasti sembuh! Tapi, apapun yang kelak akan terjadi, kami percaya Tuhan memegang kendali dan selalu beserta kami dalam setiap langkah kami.

Anugerahmu adalah satu-satunya
Yang memampukanku melalui semuanya
Dengan sabar, aku mau menantikan-Mu

Sumber : WarungSateKamu.Org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *