Menu Tutup

Hari untuk Beristirahat

Hari untuk Beristirahat

Renungan Harian

Keluaran 23:10-13

23:10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya,

23:11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.

23:12 Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.

23:13 Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.”

Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti. —Keluaran 23:12

Pada suatu hari Minggu, saya berdiri di tepi aliran sungai yang bergemericik dan mengalir berkelok melintasi wilayah kami di London bagian utara. Saya menikmati keindahan sungai itu di tengah wilayah yang penuh dengan bangunan ini. Saya merasa begitu santai saat mendengar deru aliran air dan kicauan burung-burung. Saya pun terdiam sejenak untuk bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah menolong kita mengalami keteduhan bagi jiwa kita.

Tuhan menetapkan adanya hari Sabat—waktu untuk beristirahat dan disegarkan kembali—bagi umat-Nya karena Dia ingin mereka terus bertumbuh. Seperti tertulis di kitab Keluaran, Dia memerintahkan mereka membajak ladang selama enam tahun dan berhenti untuk sementara waktu pada tahun ketujuh. Umat Israel juga diperintahkan untuk bekerja selama enam hari dan beristirahat di hari ketujuh. Cara hidup yang ditetapkan Tuhan itu membedakan umat Israel dari bangsa-bangsa lain, karena aturan itu tidak hanya ditujukan bagi mereka, tetapi juga boleh diikuti oleh orang asing dan para budak di rumah mereka.

Kita dapat menyambut hari untuk beristirahat itu dengan penuh penantian dan cara yang kreatif. Kita diberi kesempatan untuk beribadah dan melakukan sesuatu yang menyegarkan jiwa kita. Sejumlah orang menggunakan waktunya untuk bermain; ada yang berkebun; yang lain makan bersama teman dan keluarga; dan ada pula yang memilih untuk tidur siang.

Jika selama ini kamu terlalu sibuk, apa yang harus kamu lakukan untuk menemukan kembali keindahan dan kelimpahan dari satu hari yang disisihkan untuk beristirahat? —Sheridan Voysey

Tuhan Allah, kami menemukan perteduhan kami di dalam-Mu. Terima kasih karena Engkau telah menciptakan kami untuk bekerja dan juga beristirahat. Tolonglah kami menemukan ritme yang tepat dan seimbang bagi hidup kami.

Dalam iman dan pelayanan, beristirahat sama pentingnya dengan bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *