Hari di mana Aku Tidak Lagi Bisa Menolak Yesus

Hari di mana Aku Tidak Lagi Bisa Menolak Yesus
Oleh Jefferson, Singapura

“Apakah kamu ingin mengetahui Kebenaran?” tanya guru pelajaran agama Kristen kepadaku dan seorang teman. Waktu itu sedang jam istirahat siang dan kami sedang berada di ruang guru untuk suatu alasan yang tidak bisa kuingat.

“Tentu, pak,” balasku.

Guruku mengajak kami ke perpustakaan, dan segera setelah kami menemukan tempat duduk, dia bertanya, “Siapa Yesus?”

“Dia adalah Juruselamat,” jawabku tanpa pikir panjang.

“Betul, tapi tidak lengkap,” balasnya.

Aku melirik kepada temanku untuk meminta bantuan, tapi dia sama bingungnya sepertiku. Aku mencoba mengingat-ingat bahan pelajaran agama dari kelas-kelas sebelumnya—tidak ada jawaban lain yang muncul.

Puas dengan kebingungan kami, guru kami menyuruh kami untuk mengambil Alkitab dari rak buku dan membaca Roma 10:9.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan,” baca kami serentak.

“Jadi, siapa itu Yesus?” tanya guruku sekali lagi.

Jawabannya sudah jelas; namun, rencana Tuhan yang memimpinku kepada momen ini tidak sejelas itu.

Meragukan Kekristenan

Sejak aku masih kecil, aku sudah tertarik pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial. “Siapa diriku? Apakah arti hidup? Apa yang akan terjadi setelah aku meninggal?” Seiring umurku bertambah, aku mulai mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Perhentian pertamaku adalah iman Katolik. Ketika aku dan adikku masih balita, orangtua kami sering mengajarkan kami tentang Yesus yang mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa sehingga mereka bisa masuk surga setelah meninggal. Mereka juga membawa kami ke ibadah misa mingguan.

Namun, sebagai seorang anak kecil, aku tidak mengerti apa itu keselamatan. Aku pun tidak menikmati ibadah yang kuikuti. Yang aku tahu adalah gereja itu membosankan dan ritualistik. Kalau bisa memilih, aku lebih baik tinggal di rumah dan menonton kartun daripada pergi ke gereja. “Kalau keselamatan berarti mengikuti ibadah yang membosankan setiap Minggu, aku tidak mau diselamatkan,” pikirku. Setelah menghadapi begitu banyak keluhan dan gerutuan dariku dan adikku, orangtuaku, yang ketika itu cukup acuh tak acuh terhadap agama, memutuskan untuk berhenti menghadiri ibadah sama sekali ketika aku berumur delapan tahun.

Perhentianku berikutnya adalah Agnostisme dan Ateisme. Waktu itu aku baru melanjutkan sekolah ke sebuah SMP Kristen Protestan. Kupikir orang-orang Protestan akan berbeda dari orang Katolik. Dugaanku dibantahkan oleh teman-temanku yang mengaku dirinya “Kristen” tapi tidak serupa Kristus sama sekali. Dalam pandanganku saat itu, tampaknya Yesus, yang mengklaim dirinya adalah Tuhan, tidak mampu sama sekali untuk mengubah orang menjadi baik. Kesimpulanku adalah iman Protestan sama tak berdayanya. Aku mulai mengembangkan filosofiku sendiri—hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang kuanggap dapat membantuku untuk hidup dengan baik—yang sangat dipengaruhi oleh paham Panteisme dari Timur dan Humanisme Sekuler dari Barat.

Filosofiku hanya bertahan selama tiga tahun. Pada saat aku masuk SMA, kepercayaan-kepercayaanku telah menghadapi banyak tantangan dan kemunduran. Misalnya, dulu aku percaya bahwa dengan kemauanku semata aku bisa memfokuskan diri pada hal-hal filosofis yang kupandang lebih bermakna dari pengejaran akan kesenangan duniawi. Tetapi pikiranku tidak bisa fokus dan aku sering menemukan diriku teralihkan oleh hiburan-hiburan yang kuanggap “duniawi” seperti komik dan film. Kejadian yang terus berulang ini membuktikan bahwa aku tidak bisa melakukan hal baik apapun dengan kekuatanku atau kemauanku sendiri.

Setelah dikecewakan oleh filosofiku sendiri, dan, mengetahui dari pengalamanku bahwa cara manusia selalu berakhir dalam kesia-siaan, aku berpaling kepada iman yang dulu kupandang rendah: Kekristenan.

Mengapa iman Kristen? Tiga tahun mempelajarinya dalam pelajaran agama di SMP membukakan mataku kepada keunikannya dibandingkan dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Kekristenan berkata bahwa aku diselamatkan oleh Allah hanya karena Allah mau menyelamatkanku, bukan karena aku orang yang baik atau berhak mendapatkannya atau karena usahaku sendiri. Sambil aku melihat bagaimana kasih-Nya memenuhi dan meresapi setiap sudut ciptaan-Nya, aku mulai menemukan jawaban-jawaban terhadap keberatan-keberatanku terhadap Kekristenan, termasuk tentang teman-teman “Kristen” ku.

Selama beberapa bulan aku bermain mata dengan Kekristenan melalui iman Katolikku yang tidak pernah kupegang dengan sungguh-sungguh. Aku mulai berdoa tapi tidak menganggap Allah sebagai Tuhan. Aku juga mulai membaca Alkitab tapi tidak mempercayai otoritas serta klaim-klaim teologisnya.

Situasi ini berlanjut hingga aku bertemu dengan guruku yang dalam pelajaran pertamaku bersamanya membicarakan akhir zaman sebagaimana tercatat dalam kitab Wahyu. Karena aku baru menonton film dokumentasi tentang topik tersebut beberapa minggu sebelumnya, aku berbincang dengannya di akhir pelajaran untuk memperjelas beberapa kebingunganku. Jawaban-jawabannya yang logis selama diskusi singkat kami membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku tidak pernah menyangka bahwa teologi Kekristenan memiliki kerangka yang sangat rasional. Perbincangan ini memimpinku kepada beberapa diskusi lanjutan dengannya tentang hubungan antara iman dan rasio.

Walaupun tarikan untuk percaya kepada Tuhan semakin kuat, aku terus menemukan cara untuk mengelak. Aku tidak mau hidupku diatur oleh Allah yang keberadaan dan otoritas-Nya tidak bisa kuterima. Sampai akhirnya pertanyaan itu tiba.

“Siapa itu Yesus?”

Bergumul dengan Kebenaran

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan. . .

“Oke, aku bisa mengaku demikian, kemudian hidup seolah-olah Yesus bukan Tuhan. Karena dia bukanlah Tuhanku. Bukankah aku adalah penguasa diriku sendiri?!” pikirku.

. . . dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Aku merasa dipojokkan. Ayat ini membawaku tepat kepada inti daripada Kekristenan, di mana aku melihat Yesus yang telah bangkit berdiri memandangku dalam kemuliaan-Nya, telapak tangan dan kaki-Nya masih berlubang dari penyaliban, lambung-Nya dari tusukan tombak, tangan-Nya terentang kepadaku, memanggilku kembali kepada-Nya.

Mekanisme pertahananku langsung aktif, pikiranku mencoba membuktikan bahwa ini tidak mungkin benar. Menariknya, setiap argumen yang keluar malah mendukung lebih jauh klaim bahwa Yesus adalah Tuhan. Salah satu bantahan terkuatku terhadap Kekristenan sudah kusebut, yaitu “ketidakmampuan” Yesus untuk mengubah teman-temanku untuk hidup dengan benar. Namun, setelah merenungkan ayat ini dan pengalamanku sendiri, aku menyadari bahwa hidup dengan benar memerlukan iman kepada Tuhan yang benar: ketika seseorang percaya bahwa Yesus benar-benar adalah Tuhan yang Allah telah bangkitkan dari kematian di atas kayu salib, kasih Allah akan memenuhi dan memampukan orang itu untuk hidup memuliakan dan menikmati-Nya.

Aku mulai melihat bahwa setiap detik keberadaanku di dunia dan setiap hal yang dapat kutemukan di dunia ini menunjuk kepada keberadaan Allah dan kedaulatan-Nya sebagai Tuhan. Fakta bahwa Ia, Yesus, telah mati dan bangkit kembali memberiku pengharapan bahwa sekalipun aku telah pergi begitu jauh dari Tuhan, aku masih bisa diselamatkan dan kembali kepada-Nya. Tidak ada jalan lain. Aku harus percaya.

Memandang guruku, aku menemukan diriku sendiri berkata, “Tuhan.”

Hidup dalam kedaulatan Tuhan Yesus

Lima belas tahun pertama kehidupanku diwarnai dengan banyak kekecewaan dan penyesalan. Segala usahaku untuk “hidup dengan baik dan benar” gagal total. Hanya setelah pertobatanku aku bisa merasakan sukacita dan damai yang sejati dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang memberitahukan jalan kehidupan kepadaku (Mazmur 16:11).

Karena Yesus adalah Tuhan atas segala ciptaan, tidak ada orang yang bisa berkata, mengklaim, atau bahkan membuktikan kalau mereka berkuasa atas hidup mereka sendiri. Kita hanya bisa memilih antara menghidupi seluruh keberadaan kita dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atau melewati setiap momen kehidupan dalam penyangkalan akan kedaulatan-Nya. Seorang misionaris bernama Hudson Taylor merangkum kebenaran ini dengan sangat baik, “Antara Kristus adalah Tuhan atas segalanya atau dia bukanlah Tuhan sama sekali.” Dan jika kita memang mengakui Kebenaran ini, segala hal yang kita lakukan, setiap detik keberadaan kita harus menunjuk kepada-Nya dan kemuliaan-Nya, bahkan dalam hal-hal paling sepele seperti membersihkan kamar kita (1 Korintus 10:31).

Sekarang sudah enam tahun sejak aku mengakui Yesus sebagai Tuhanku. Hidupku berubah total sejak saat itu dan aku bisa berkata kalau pengakuan dan pengenalan akan Kristus itu jauh lebih baik dan berharga dibandingkan dengan ketika aku hidup sebagai penguasa atas diriku sendiri.

Soli Deo gloria.

Oleh Jefferson, Singapura

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *