Menu Tutup

Dari Penyalahgunaan Hingga Kebebasan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh Lisa, Filipina – Hongkong. 

Butuh waktu beberapa lama saya berada di sini dan memberanikan diri untuk berdiri di hadapan Anda hari ini menceritakan kesaksian.

Saya berasal dari keluarga yang berjuang dalam hidup karena kemiskinan. Ayah saya seorang yang tidak bertanggung jawab. Saya memiliki 11 saudara tinggal di Mindanao yang tidak pernah saya temui lagi sejak kami berpisah ketika saya masih kecil.

Saya menyaksikan bagaimana ibu saya menderita dalam setiap situasi. Tetapi hal terburuk yang dilakukan ayah saya adalah melecehkan saya secara seksual beberapa kali.

Sejak itu saya menjadi pendiam dan saya tidak pernah memberi tahu siapa pun karena saya merasa lebih baik jika tidak ada yang tahu. Dan saya terus bertanya pada diri sendiri bagaimana ayah yang tidak berperasaan bisa melakukan ini pada anaknya. Dia seharusnya melindungi saya tetapi saya merasa dia ingin membunuh saya dengan perlahan.

Pengalaman ini mengakibatkan reaksi keras saya ketika saya melihat gadis-gadis seusia saya di-bully. Suatu kali saya melukai teman sekelas laki-laki secara serius dengan menusuk mata kirinya yang menyebabkan dia menjadi buta. Kemudian ibunya mengirim saya ke penjara selama empat jam hanya untuk memberi saya pelajaran tetapi itupun tidak membantu.

Jumlah keluarga di rumah saya banyak dan kami tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan. Ayah saya tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Terkadang kami hanya makan satu kali sehari. Jadi ibu saya memutuskan untuk mengirim saya ke rumah bibi saya dan berpikir bahwa saya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik jika saya tinggal dengan bibi.

Apa yang tidak ibu saya ketahui adalah bahwa saya hidup sangat menyedihkan saat berada di rumah bibi saya. Dia memperlakukan saya dengan kejam seperti seorang budak. Hampir setiap hari saya mengalami kekerasan fisik dan verbal.

Pengalaman terburuk yang saya alami saat tinggal dengan bibi adalah ketika sepupu saya melakukan pelecehan seksual terhadap saya. Saya merasa bingung dan tidak ada orang untuk mengaduh. Saya merasa seperti berada di antah berantah.

Lalu saya kembali ke rumah ibu tetapi dia menolak untuk menerima saya, dan mengatakan untuk kembali ke rumah bibi karena dia tidak dapat menanggung saya. Saya menangis tetapi tidak ada yang mendengarkan. Merasa sendirian, sampai suatu hari ibu mengirim adik perempuanku untuk tinggal bersamaku agar aku tidak merasa sendiri.

Tapi adikku tidak tinggal lama dengan bibi. Bibi juga memperlakukannya dengan buruk dan dia melarikan diri. Saya tau bahwa dia tinggal dengan kerabat saya yang lain. Itu terakhir kali kami bertemu. Saya terus berjuang di rumah bibi saya karena saya tidak punya pilihan untuk tempat lain.

Setelah saya lulus SMA kami pindah ke Cebu Filipina dan tinggal bersama keluarga saya yang lain. Pelecehan seksual terjadi lagi pada saya yang dilakukan oleh suaminya. Saya bertanya pada diri sendiri mengapa Tuhan membiarkan kepolosan saya disalahgunakan dengan cara ini. Jika ada Tuhan mengapa saya dikelilingi oleh orang-orang jahat?

Hari demi hari saya terus melanjutkan hidup dengan berpura-pura baik-baik saja. Saya berpura-pura bahwa semuanya berjalan normal.

Selama di sekolah menengah, saya memiliki banyak pengalaman buruk. Akhirnya, suatu hari saya memberontak. Itu bukan lagi saya; perilaku hormat saya hilang. Kemarahan dan frustrasi saya meningkat dan saya tidak mengerti diri saya sendiri.

Saya puas diri dengan melakukan perbuatan jahat. Saya ditangkap dan ditahan selama satu hari karena mencuri dan itu menyebabkan bibi akhirnya melepaskan saya. Itu adalah hal terhebat yang pernah saya lakukan karena akhirnya bebas dari hidup di neraka. Saat saya keluar dari rumah bibi, ada rasa seperti bebas dari penjara.

Kemudian saya mulai membangun tembok antara saya dan keluarga saya dan saya mengubah identitas saya menjadi lesbian hanya untuk menyembunyikan fakta bahwa saya telah dilecehkan. Kemudian saya pindah ke Manila dan menemukan keluarga yang sangat peduli. Mereka menunjukkan kasih sayang dan saya bekerja untuk mereka sebagai pengasuh anak mereka.

Awalnya cukup bagus, tapi saya masih merasa hampa. Masa lalu saya terus menghantui saya dan sebagian besar waktu saya berakhir sendirian dan menangis. Saya masih dibakar dengan amarah, rasa tidak aman, kepahitan, kecemburuan dan kebencian.

Masa lalu saya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam hidup. Itu membuka pintu kejahatan bagi saya. Kecanduan narkoba, kebiasaan merokok dan menjalin hubungan dengan wanita lain. Saya menjadi seperti anak laki-laki hingga kemudian salah satu teman menantang untuk minum dengannya, jadi saya setuju. Kami berdua mabuk dan hal-hal yang tidak saya duga terjadi.

Jadi sekarang dia adalah ayah dari dua anak saya. Meskipun dia tidak pernah meninggalkan saya, namun saya masih hidup di masa lalu. Saya tidak puas dan amarah masih ada. Semua hal yang terjadi pada saya — semua mimpi buruk itu – terus datang kembali. Masih ada kekosongan di hati saya dan masih melakukan perbuatan jahat. Itu terbukti dengan tiga kali saya melakukan aborsi.

Pada tahun 2011 saya bekerja di Singapura tetapi merasa di antah berantah dan masih belum merasa puas. Di dalam hati dan pikiran saya hanya ada kehampaan dan kehampaan. Hidup saya tidak memiliki arah. Saya selalu diberhentikan dari pekerjaan karena saya selalu melawan setiap kali ada yang mengoreksi atau mengkritik saya.

Pada Oktober 2014, saya pindah kembali ke Filipina dan tinggal di sana selama dua tahun. Kemudian saya melamar pekerjaan di Eropa. Pertengahan Agustus 2015 saya mendapat permintaan pesan di Facebook yang menanyakan nama asli saya. Orang itu mengatakan kepada saya bahwa saya terlihat seperti saudara perempuan mereka yang telah lama hilang. Saya memberitahu nama asli saya.

Lalu dia menelepon saya. Itu adalah pembicaraan paling tenang yang pernah saya lakukan dengan saudara perempuan saya karena kami tidak dapat berhenti menangis. Kami berdua memahami perasaan kerinduan yang kuat yang kami rasakan satu sama lain selama hampir 28 tahun.

Dia ingin saya ikut ke Hong Kong tapi saya bilang tidak karena ada majikan yang menunggu saat itu. Saya dijadwalkan pergi ke Eropa tetapi tidak jadi karena majikan saya membatalkan. Jadi saya setuju untuk pergi ke Hong Kong. Saya tidak tahu bahwa Tuhan merencanakan untuk membawa saya ke Hong Kong jauh dari Filipina.

Pada 10 Agustus 2016, saya tiba di Bandara Internasional Hong Kong. Dan akhirnya, pada 21 Agustus 2016, kami dipertemukan kembali untuk pertama kalinya.

Dia mengatakan bahwa ayah meninggal tiga tahun yang lalu, tetapi kemarahan saya tiba-tiba meledak lagi dan saya mengatakan kepadanya bahwa tidak masalah berapa kali dia meninggal; dia tidak akan pernah bisa membayar kembali kerusakan yang telah dia lakukan dalam hidupku karena aku masih menderita dari rasa sakit yang dia sebabkan.

Kakak perempuan saya memberi tahu saya bahwa saya perlu memaafkan ayah saya, agar saya bisa hidup bebas. Suatu malam, pada 24 September 2016, di Victoria Park, sambil duduk sendirian, saya berbicara dengan Tuhan. Saya mengatakan kepada-Nya bahwa saya lelah dan muak dengan kehidupan seperti ini. Dan saya bertanya kepada Tuhan apakah dia bisa mengirim seseorang kepada saya yang bisa membawa saya ke tangan-Nya.

Tuhan langsung menjawab. Dia mengirim Riza, dan sejak saat itu Riza mulai berbagi dengan saya pengalamannya dengan Tuhan. Saya heran dengan apa yang saya dengar. Setelah dia berbicara dengan saya, dia berdoa untuk saya, dan dia mengundang saya untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya dan itu adalah awal dari perjalanan saya kepada Tuhan.

Kemudian saya mulai menghadiri sekelompok persekutuan. Saya tahu bahwa saya perlu diselamatkan, untuk menerima Yesus, dan bahwa pekerjaan-Nya cukup untuk meyakinkan saya tentang kasih Tuhan bagi saya dan tempat di surga. Tuhan mampu mengambil kekacauan masa lalu kita dan mengubahnya menjadi sebuah pesan. Dia dapat mengambil pencobaan dan ujian dan mengubahnya menjadi kesaksian. Saya tidak lagi kosong; hidup saya dipenuhi dengan tujuan.

Saya kagum dengan anugerah dan pengampunan Tuhan. Ada juga perbedaan besar di dalamnya; untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya tahu kepuasan. Tuhan akan terus memberi saya anugerah untuk melawan dan mengatasi dosa. Saya tidak lagi menjalani masa lalu saya karena Tuhan tinggal di dalam saya. Nama saya Lisa – pernah hilang – tetapi Tuhan menebus dan menemukan saya.

Firman-Nya: ”Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu,
dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!
Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru,
yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?
Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

Yesaya 43: 18-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kolom Komentar!

Berikan komentar sesuai Pedoman Kami

Baca Artikel Lainnya