Bertumbuh di Tempat yang Tepat

Bertumbuh di Tempat yang Tepat

Baca: 1 Samuel 20:30-34

20:30 Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?

20:31 Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”

20:32 Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: “Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?”

20:33 Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud.

20:34 Sebab itu Yonatan bangkit dan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang bernyala-nyala. Pada hari yang kedua bulan baru itu ia tidak makan apa-apa, sebab ia bersusah hati karena Daud, sebab ayahnya telah menghina Daud.

Lalu Yonatan membuat perjanjian dengan keluarga Daud. —1 Samuel 20:16 FAYH

“Gulma adalah tanaman apa saja yang tumbuh di tempat yang tidak kamu inginkan,” kata ayah saya saat memberikan cangkul kepada saya. Tadinya saya ingin membiarkan saja tanaman jagung yang tumbuh di antara tanaman kacang polong. Namun, ayah yang telah berpengalaman dalam urusan bertani menyuruh saya mencabut tanaman jagung itu. Batang jagung yang tumbuh sendiri itu tidak berguna sama sekali dan hanya menghambat pertumbuhan tanaman kacang polong dan merampas nutrisi yang dibutuhkannya.

Manusia bukanlah tanaman—kita memiliki pemikiran sendiri dan kehendak bebas yang diberikan Allah. Namun, adakalanya kita berusaha untuk bertumbuh di tempat yang tidak dimaksudkan Allah.

Putra Raja Saul, Yonatan, bisa saja melakukan hal tersebut. Ia sangat berhak jika ia mau menjadi raja. Namun, ia melihat berkat Allah atas Daud sekaligus mengenali sikap iri hati dan kesombongan Saul, ayahnya (1Sam. 18:12-15). Jadi daripada merebut takhta yang tidak akan pernah menjadi miliknya, Yonatan memilih untuk menjadi sahabat dekat bagi Daud, bahkan pernah menyelamatkan hidup Daud (19:1-6; 20:1-4).

Mungkin ada yang mengatakan bahwa pengorbanan Yonatan terlalu besar. Namun pertanyaannya, bagaimana kita ingin dikenang? Sebagai orang yang ambisius seperti Saul, yang berusaha mempertahankan kerajaannya tetapi akhirnya lepas juga? Atau seperti Yonatan, yang melindungi hidup seseorang yang kelak menjadi nenek moyang Yesus?

Rencana Allah selalu lebih baik daripada rencana kita sendiri. Kita bisa menolak rencana Allah itu dan meniru tanaman jagung yang salah tempat tadi. Atau kita dapat menerima arahan Allah dan menjadi tanaman yang bertumbuh dan berbuah di tanah yang diusahakan-Nya. Pilihannya ada di tangan kita. —Tim Gustafson

Tuhan, ampuni kami saat bertindak seolah-olah Engkau telah salah menempatkan kami. Tolonglah kami melakukan kehendak-Mu yang benar hari ini.

Allah mengundang kita untuk bekerja bersama-Nya dalam menyebarkan Injil di mana pun kita ditempatkan.

Sumber

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *