Menu Tutup

Bagaimana Berdoa Ketika Berdoa Sangat Sulit

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh Jarrett Stevens, Chicago. USA
Penulis buku Praying Through: Overcoming the Obstacles That Keep Us from God.

Saya telah menjadi pendeta selama lebih dari dua puluh tahun, dan terlalu sering saya mendengar pernyataan berikut ini :

“Aku tidak tahu bagaimana cara berdoa.”
“Saya belum terbiasa melakukan hal-hal semacam ini.”
“Saya merasa sulit untuk berdoa karena ini dan itu.”
“Aku terlalu marah pada Tuhan untuk berdoa sekarang.”

Saya mengerti. Saya juga pernah mengalami frustrasi dan pergumulan dengan doa. Beberapa tahun yang lalu, ayah mertua saya meninggal secara tiba-tiba dan tidak terduga saat lari olahraga. Tak satu pun dari kami melihatnya kembali, dan tak satu pun dari kami melihat bagaimana kami akan berhasil tanpa dia.

Berbulan-bulan berlalu sebelum saya merasa ingin berbicara dengan Tuhan lagi. Ketika beban kerja saya sangat berat (tepatnya waktu yang paling saya butuhkan untuk berdoa), saya berkata pada diri sendiri bahwa hal terakhir yang saya punya adalah waktu untuk berdoa. Bahkan saat kita sedang lari pagi, misalnya atau ketika saya lelah di penghujung hari.

Saya mengerti. Berdoa sepertinya sulit.

Bagi banyak orang, belajar berdoa terasa seperti belajar bahasa kedua: Anda tidak pernah yakin apakah Anda menggunakan kata-kata yang tepat dengan cara yang benar. Anda bisa merasa seperti turis yang tersesat di negeri asing di mana semua orang tahu sesuatu yang tidak Anda ketahui.

Atau mungkin doa tampak sulit karena Anda merasa kurang berdoa. Tanyakan pada siapa saja seberapa sering mereka berdoa, dan kemungkinan besar mereka akan memberi tahu Anda dengan rasa malu, “Tidak cukup. Saya harus lebih banyak berdoa.” Sama seperti tidur, berolahraga atau makan, berdoa adalah hal yang kita tahu itu sangat baik untuk kita tetapi tidak pernah cukup. Seolah doa adalah sesuatu yang sepertinya tidak pernah kita capai

Lalu ada kalanya juga doa menjadi sulit karena Anda tidak mau melakukannya. Anda terlalu lelah atau terlalu sibuk atau tidak ingin mengganggu Tuhan dengan doa-doa kecil Anda yang konyol. Seiring waktu, berdoa bisa tampak seperti hafalan dan berulang-ulang, mandek dan basi. Anda mungkin merasa kehabisan kata-kata untuk diucapkan.

Dan bagi sebagian orang, kehilangan sesuatu yang besar, adanya rasa sakit, atau dalam keadaan berduka membuat berdoa terasa seperti tersandung dan seolah meraba-raba dalam gelap. Mungkin dulu Anda pernah memiliki semangat doa yang berkobar-kobar tetapi sekarang telah menyusut menjadi kedipan, dan Anda tidak dapat melihat jalan keluar melalui kegelapan ini.

Mungkin Anda telah menemukan bahwa doa-doa manis dan sederhana dari iman masa kanak-kanak tidak lagi cukup besar untuk kompleksitas kehidupan dewasa. Rumus untuk berdoa gagal dan akhirnya mengecewakan kita. Terkadang semua kata di dunia sepertinya tidak bisa menghubungkan titik-titik dari hati kita dengan Tuhan. Martyn Lloyd-Jones, seorang pendeta Welsh abad kedua puluh yang terkenal, mengakui kebingungan doa dengan menyebutnya “ekspresi tertinggi dari iman kita kepada Tuhan”[1] dan mengatakan bahwa “Segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan Kristen lebih mudah daripada doa. ”[2]

Berdoa itu sulit. Atau setidaknya itulah yang kita katakan pada diri kita sendiri. Saya ingin membantu Anda melihat bahwa itu tidak sesulit yang Anda pikirkan. Sebenarnya, tanpa sedikitpun menggurui, berdoa sejujurnya cukup sederhana.

Masalah bagi banyak dari kita adalah kita lupa betapa sederhananya doa itu. Sangat sederhana sehingga seorang anak dapat melakukannya. Itu hanya berbicara dengan Tuhan. Hanya itu. Jika Anda dapat berbicara dengan seorang teman, maka Anda dapat berdoa. Tuhan tidak mempersulit doa—kami melakukannya.

Anak-anak kami telah berdoa sejak mereka bisa berbicara. Bukan karena kami orang tua yang luar biasa, tetapi karena bagi mereka, itu sederhana. Mereka hanya berbicara dengan Tuhan. Mereka berdoa tanpa kepura-puraan. Mereka menggunakan kata-kata mereka sendiri untuk memberi tahu Tuhan bagaimana perasaan mereka dan apa yang mereka inginkan. Mereka berdoa untuk teman-teman mereka, mereka berdoa untuk tugas sekolah mereka, mereka saling mendoakan, mereka bahkan berdoa untuk boneka binatang mereka.

Kekuatan doa terletak pada kesederhanaannya. Namun, begitu sering, kita mendapati diri kita merasa seperti murid-murid Yesus ketika mereka bertanya kepada Yesus, “Tuhan, ajari kami [cara] berdoa” (Lukas 11:1). Dan jika Anda dapat memposisikan diri Anda seperti para pengikut Yesus yang pertama dan meminta Tuhan untuk menjadikan doa sebagai gaya hidup Anda, itu akan membantu, membebaskan, dan memberi kehidupan bagi Anda. Karena kita membutuhkan doa lebih dari yang kita tahu

[1] Martyn Lloyd-Jones, The Assurance of Our Salvation: Exploring the Depth of Jesus’ Prayer for His Own, Studies in John 17 (Wheaton, IL: Crossway, 2000), chap. 2.

[2] D. Martyn Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount, one-volume ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1976), 322.

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kolom Komentar!

Berikan komentar sesuai Pedoman Kami

Baca Artikel Lainnya