Menu Tutup

Ayah yang Sempurna

renungan harian rohani kristen

Renungan Harian Baca: Amsal 20:3-7

20:3 Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.

20:4 Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa.

20:5 Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya.

20:6 Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?

20:7 Orang benar yang bersih kelakuannya—berbahagialah keturunannya.

Dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (c) LAI 1974

Orang benar yang bersih kelakuannya—berbahagialah keturunannya. —Amsal 20:7

Ayah saya pernah mengaku kepada saya, “Saat kamu beranjak dewasa, Ayah sering sekali tidak ada di sisimu.”

Jujur saja, saya tidak mengingatnya. Selain bekerja penuh waktu, Ayah sering pergi keluar rumah pada malam hari untuk melatih paduan suara di gereja, dan sesekali melakukan perjalanan selama satu atau dua minggu bersama grup kwartet prianya. Namun, pada semua peristiwa penting (dan banyak peristiwa yang biasa saja) dalam hidup saya, ia selalu hadir.

Misalnya, waktu berumur 8 tahun, saya mendapat peran kecil dalam drama di sekolah. Semua ibu datang, tetapi hanya ada seorang ayah, yaitu ayah saya. Dalam banyak cara dan kesempatan, ia selalu memberi tahu saya dan kakak-kakak bahwa kami sangat berarti baginya dan ia menyayangi kami. Melihat cara ayah memperhatikan ibu dengan sabar di tahun-tahun terakhir masa hidup ibu benar-benar mengajarkan saya tentang wujud kasih yang rela berkorban. Ayah bukanlah orang yang sempurna, tetapi ia selalu menjadi ayah yang menggambarkan dengan baik Allah Bapa saya di surga. Itulah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang ayah Kristen.

Adakalanya ayah kita di dunia mengecewakan atau menyakiti anakanaknya. Namun, Bapa kita di surga adalah “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). Ketika seorang ayah yang mengasihi Allah menegur, menghibur, mengajar, dan menyediakan kebutuhan anak-anaknya, ia memberikan bagi mereka contoh yang baik dari Bapa Surgawi kita yang sempurna. —Cindy Hess Kasper

Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih setia-Mu yang selalu dapat kuandalkan. Tolonglah aku untuk menjalani hidup hari ini sehingga kelak aku bisa mewariskan teladan kasih dan kesetiaan.

Hidup yang dijalani bagi Kristus merupakan warisan terbaik yang dapat kita teruskan kepada anak-anak kita.

 

Sumber Renungan Harian
WarungSateKamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *