Menu Tutup

ASPEK-ASPEK ESENSIAL LITURGI GKKA INDONESIA

KEPUTUSAN SIDANG RAYA XIII (BALIKPAPAN, 2019)

Prinsip teologis, pertimbangan gerejawi, dan model ibadah Konvergensi menjadi pijakan bagi GKKA INDONESIA dalam mengembangkan bentuk liturgi ibadah.  Ada tiga bagian penting yang menjadi aspek esensi dalam liturgi yang disusun: ruang liturgi, makna liturgi, dan tindakan liturgi.  Ruang liturgi menggambarkan ruang-ruang pertemuan Tuhan dengan umat-Nya, yang terangkai dalam sebuah alur yang baik dari awal hingga akhir.  Makna liturgi menunjukkan elemen-elemen yang penting secara teologis yang ada dalam setiap ruang liturgi.  Tindakan liturgi merupakan susunan liturgi yang menunjukkan dialog antara kita dengan Tuhan.  Ketiga hal ini dibangun di atas dasar narasi kitab Keluaran.[1] 

Ruang, Makna, dan Tindakan Liturgi dalam Kitab Keluaran

Berdasarkan alur kitab ini maka terdapat lima Ruang liturgi yang dapat menjadi ruang dialog Tuhan dengan umat-Nya.[2]  Berdasarkan kelima ruang ini Makna Liturgi ditemukan dan disusun dalam bentuk Tindakan Liturgi.  Berikut adalah penjelasan mengenai lima ruang liturgi yang ada dalam kitab Keluaran beserta makna liturginya, serta aplikasinya bagi ibadah kita yang tersusun dalam tindakan liturgi yang berurutan.

RUANG LITURGIMAKNA LITURGITINDAKAN LITURGI
PERJUMPAAN (KEL. 1-19)Penyataan Diri Allah Penyelamatan Allah Panggilan AllahPanggilan Ibadah Votum dan Salam Nyanyian Jemaat
PERJANJIAN (KOVENAN) (KEL. 19-20)Kekudusan Allah Anugerah AllahPengakuan Dosa Berita Anugerah Pembaharuan Komitmen
PEMBERITAAN FIRMAN (KEL. 20-24)Firman AllahPersiapan Khotbah Pengakuan Iman
PERSEKUTUAN (KEL. 24-39)Persekutuan dengan Allah dan Sesama   Pemberian terbaik bagi AllahDoa Syafaat Sakramen[3] Salam Kasih Persembahan Doa Persembahan
PENGUTUSAN (KEL. 39-40)Penyertaan AllahPengutusan Doksologi Berkat

Ruang Perjumpaan (Pasal 1-19)

Kitab Keluaran menunjukkan perjumpaan Allah dengan umat-Nya.  Perjumpaan ini mengandung 3 makna liturgi, yaitu:

Penyataan Diri Allah

Allah berinisiatif untuk menjumpai Musa (3:2) dan Dia juga yang berinisiatif untuk menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya.  Perjumpaan Allah dengan Musa menghasilkan dialog (3:4 – 4:17).  Allah memanggil Musa dan Musa meresponi panggilan Allah.  Penyataan diri Allah diawali dengan kesadaran bahwa tempat di mana Allah hadir berjumpa dengan Musa adalah tempat yang kudus (3:5).  Di situlah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai pribadi yang dikenal oleh Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (3:6). 

Dalam Ibadah, Allah adalah pihak yang berinisiatif berjumpa dengan kita umat-Nya.  Perjumpaan dengan Allah ini menghasilkan dialog yang hidup dan dinamis antara diri-Nya dengan kita.  Itulah sebabnya ibadah haruslah dialogis yang disusun dalam sebuah liturgi.  Perjumpaan ini juga membawa kita pada suatu kesadaran bahwa tempat di mana Allah hadir adalah kudus.  Siapapun yang hendak berjumpa dengan Allah harus menyadari bahwa tempat perjumpaan dengan-Nya adalah tempat yang kudus.  Oleh karena itu seharusnya kita beribadah dengan hati yang siap untuk bertemu Tuhan.

Penyelamatan Allah.

Allah yang hadir adalah Allah yang juga peduli akan umat-Nya.  Ia mengerti pergumulan umat-Nya (3:7).  Tidak hanya itu, Ia juga bertindak menyelamatkan umat-Nya keluar dari penindasan yang mereka alami.  Dengan tangan-Nya yang kuat, Tuhan membebaskan umat-Nya dari cengkraman Mesir (13:16; 14:13-14,30).

Demikian juga dengan kita.  Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita dari cengkraman Si Jahat.  Kematian dan kebangkitan-Nya telah menunjukkan kuat kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus.  Itu sebabnya kita harus senantiasa bersyukur dan menyembah-Nya.

Panggilan Allah

Allah tidak hanya menyatakan kehadiran-Nya dan menyelamatkan umat-Nya, tapi juga memanggil mereka untuk beribadah kepada-Nya (3:12,18; 4:22-23; 5:1-3).  Karya penyelamatan Allah menuntut ketaatan umat-Nya untuk beribadah kepada Allah.  Karya penyelamatan Yesus Kristus atas hidup kita juga menuntut ketaatan kita untuk datang beribadah kepada-Nya.  Ia memanggil kita untuk beribadah.  Atas segala apa yang Allah lakukan dalam hidup umat-Nya, maka Musa beserta bangsa Israel meresponinya dengan nyanyian umat (15:1-21) untuk menyembah-Nya.

Dalam liturgi, ada beberapa tindakan yang mengungkapkan ketiga makna diatas, yakni: Panggilan IbadahVotum dan Salam, serta Nyanyian Jemaat

Ruang Perjanjian (Pasal 19-20)

Di ruang perjanjian kita melihat ada dua makna penting yaitu kekudusan Allah dan anugerah Allah, yang terwujud dalam tiga macam tindakan liturgi yakni Pengakuan DosaBerita Anugerah, dan Pembaharuan Komitmen.

Kekudusan Allah.  Gunung Sinai (juga disebut Horeb, Kel 3:1; 19:11; Ulangan 14:10) adalah tempat perjanjian di mana orang Israel berjumpa dengan Tuhan dan menerima hukum perjanjian.  Namun sebelum hukum tersebut diberikan, maka bangsa Israel harus menguduskan diri (19:10,22-23).  Kekudusan Allah menuntut kekudusan manusia.  Dalam liturgi aspek ini dinyatakan lewat tindakan Pengakuan Dosa.

Anugerah Allah.  Allah Israel bukan hanya Allah yang menuntut kekudusan saja, tetapi juga adalah Allah yang menunjukkan anugerah lewat pernyataan-Nya (20:2).  Allah menunjukkan anugerah yang telah Ia berikan bagi umat-Nya, yaitu kemerdekaan dari perbudakan.  Dalam liturgi hal ini dinyatakan lewat tindakan Berita Anugerah.

Anugerah yang diberikan Tuhan harus diresponi dengan komitmen menaati segala firman-Nya (20:3-17). [4]  Momen ini disebut sebagai Pembaharuan Komitmen, yang merupakan ucapan syukur jemaat atas anugerah Allah, sekaligus menyatakan komitmen mereka untuk hidup dalam ketaatan.

Ruang Pemberitaan Firman (Pasal 20-24)

Makna dari ruang ini adalah Firman Allah.  Tuhan memberikan firman-Nya kepada bangsa Israel. Ini merupakan momen yang sangat penting, karena memperlihatkan kepedulian Tuhan akan segala aspek kehidupan umat-Nya, baik aspek vertikal (umat dengan Tuhan) maupun horizontal (umat dengan sesama).  Bahkan dalam hal-hal yang paling kecil pun, firman-Nya diberikan untuk mengarahkan.  Tidak ada satu pun yang terjadi pada diri manusia di luar campur tangan Tuhan.[5]  Diantaranya adalah:

  • Tentang hak budak Ibrani (21:1-11)
  • Peraturan tentang jaminan nyawa sesama manusia (21:12-36)
  • Peraturan tentang jaminan harta sesama manusia (22:1-17)
  • Peraturan tentang dosa yang keji (22:18-20)
  • Peraturan tentang orang-orang yang tidak mampu (22:21-27)
  • Berbagai-bagai peraturan (22:28-31)
  • Peraturan tentang hak-hak manusia (23:1-13)
  • Peraturan tentang kebaktian dan hari-hari raya (23:14-19)

Pernyataan akan kepedulian Allah atas hidup umat-Nya ini menyatakan bagaimana Allah mengatur kehidupan umat-Nya seturut standar hidup umat Allah yang berbeda dengan cara hidup orang kafir yang tidak mengenal Allah.  Umat Allah menerima firman Allah dan taat mengikuti standar ketentuan yang Allah kehendaki.  Dalam liturgi, inilah momen Firman Allah diberitakan melalui Khotbah.  Sebelumnya, jemaat telah dipersiapkan (Persiapan) terlebih dahulu untuk masuk pada momen ini.

Setelah bangsa Israel mendengar firman Allah, maka mereka meresponinya dengan pengakuan bersama akan otoritas Allah (lewat mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, 24:5) serta ketaatan mereka pada otoritas-Nya (24:7).  Dengan demikian maka Pengakuan Iman menjadi tindakan liturgi untuk menggambarkan hal ini.

Ruang Persekutuan (Pasal 24-39)

Menarik untuk dicermati bahwa setelah bangsa Israel mendapat firman Allah, maka terciptalah suasana persekutuan yang indah antara Allah dengan umat-Nya.  Persekutuan ini dapat dimengerti dalam dua makna liturgi:

Persekutuan bersama dengan Allah dan sesama.  Tindakan Musa, Harun, Nadab dan Abihu beserta tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel menggambarkan suatu persekutuan yang indah antara mereka dan Allah.  Mereka makan dan minum di tempat Allah hadir bersama mereka (24:9-11).  Kehadiran Allah menjadi pusat dari persekutuan yang ada. Bahkan Allah memerintahkan pembangunan Kemah Suci (Tabernakel) dengan tujuan: “supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (25:8).  Kemah Suci menunjukkan kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya, bersekutu dengan mereka.

Gambaran persekutuan ini nyata lewat beberapa tindakan liturgi seperti: Doa Syafaat (yang menunjukkan persekutuan kita dengan sesama), Sakramen (persekutuan kita dengan Allah dan sesama), dan Salam Kasih (persekutuan kita sebagai kesatuan umat).

Pemberian terbaik bagi Allah.  Persekutuan yang indah juga nyata terlihat ketika umat Tuhan dengan penuh ungkapan syukur mempersembahkan apa yang mereka miliki kepada Tuhan (25:1-2; 35:4-36:7).  Bukan hanya materi, tetapi juga segala bakat dan karunia yang diberikan Roh Tuhan, dipersembahkan mereka untuk melayani-Nya, lewat pembangunan dan segala keperluan Kemah Suci.  Dalam liturgi, hal ini bisa terlihat lewat tindakan Persembahan dan Doa Persembahan.

Ruang Pengutusan (Pasal 39-40)

Bangsa Israel sudah memiliki Kemah Suci yang menandakan kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya.  Kini mereka akan melakukan perjalanan menuju Tanah Perjanjian.  Hal ini mengandung makna bahwa Allah mengutus umat-Nya menjalani kehidupan di dunia, serta menempuh sebuah perjalanan rohani menuju rumah kekal Tuhan di sorga.[6]  Selama menjalani hidup ini, Allah akan senantiasa beserta dengan umat-Nya (40:34-38).  Inilah makna penting dalam ruang ini: Penyertaan Allah.

Demikian juga dalam ibadah.  Pada akhirnya kita akan diutus oleh Tuhan ke dalam dunia ini (Pengutusan).  Saat itulah kita memuliakanNya (Doksologi) dan setelah itu pergi dengan penyertaan-Nya (Berkat).

Jadi lewat lima ruang dalam Kitab Keluaran, kita dapat menyusun sebuah liturgi yang bergerak dinamis dari perjumpaan dengan Allah, mengikat perjanjian dengan-Nya, mendengar pemberitaan firman-Nya, menikmati persekutuan dengan Allah dan umat-Nya, dan akhirnya menerima pengutusan untuk kembali ke dalam hidup sehari-hari bersama penyertaan Allah.

Kesinambungan antar Tindakan Liturgi

Liturgi ibadah haruslah menghadirkan suatu kesinambungan antar tindakannya, karena menjadi hal yang penting bagi perjalanan rohani umat Tuhan.  Gambaran kesinambungan itu terlihat dalam penjelasan berikut ini.

TINDAKAN LITURGIPENJELASAN
Panggilan IbadahTuhan memanggil umat-Nya untuk datang beribadah kepada-Nya; dan kita meresponi panggilan ini, dengan datang kepada-Nya membawa hati yang siap.
Votum dan SalamSetelah semua telah datang berkumpul, maka dikumandangkanlah sebuah proklamasi bahwa ibadah ini hanya bisa terjadi karena pertolongan Allah Tritunggal. Setelah itu Salam diberikan dari Tuhan kepada umat-Nya yang datang beribadah.  Biasanya umat akan meresponi dengan mengatakan “Amin”.
Nyanyian JemaatPertemuan dengan Tuhan membawa kesadaran akan siapa Dia dan karya-Nya untuk umat-Nya.  Itu sebabnya umat meresponi kesadaran ini dengan sebuah pujian penyembahan
Pengakuan DosaPertemuan dengan Tuhan juga membawa umat pada kesadaran akan diri yang berdosa; maka pengakuan dosa menjadi respon umat.
Berita AnugerahAtas penyesalan umat terhadap dosanya, maka Tuhan pun beranugerah memberi pengampunan.
Pembaharuan KomitmenPengampunan yang diterima diresponi umat dengan sebuah komitmen bersama untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.  Umat pun bersukacita karena pengampunan ini.
PersiapanDengan hati yang telah diperbaharui, maka umat siap mendengarkan firman Tuhan.  Itu sebabnya umat dipersiapkan untuk menerima Firman Tuhan.
KhotbahKetika tiba saatnya maka pengkhotbah akan meminta pertolongan Roh Kudus untuk menerangkan firman Tuhan melalui khotbah yang akan dibawakan.  Setelah itu firman Tuhan dijelaskan kepada umat.
Pengakuan ImanFirman Tuhan yang diberitakan menuntut respon umat.  Ada yang setelah mendengar kemudian dikuatkan.  Ada juga yang tersadarkan akan hidupnya.  Ada juga yang akhirnya mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus.  Di sinilah momen Pengakuan Iman sebagai respon umat atas pemberitaan Firman.
Doa SyafaatUmat tidak hanya datang bersama untuk mendengarkan firman saja; tetapi Tuhan ingin ada persekutuan di antara umat-Nya, dengan mengingat kebutuhan orang lain dan membawa mereka dalam doa.
Sakramen (Perjamuan Kudus atau Baptisan Kudus)Bentuk persekutuan lainnya yang Tuhan inginkan adalah duduk makan sehidangan dengan-Nya.  Allah mengundang umat-Nya untuk makan dan minum bersama-Nya dalam Perjamuan Kudus.  Tidak hanya itu, Allah juga mengundang umat-Nya untuk bergabung dalam sukacita bersama atas bergabungnya sejumlah anak Tuhan dalam komunitas Umat Allah yang ditandai dengan Baptisan.
Salam KasihTuhan menginginkan umat-Nya senantiasa menikmati persekutuan dengan sesama umat.  Hal ini diresponi dengan saling berjabat tangan, dan menyapa umat yang baru beribadah.  Hal ini juga merupakan ungkapkan kasih bersama umat, dalam merayakan pemeliharaan Tuhan, baik atas dirinya maupun keluarganya
PersembahanAtas segala kebaikan Tuhan dan persekutuan bersama-Nya dalam hidup yang berjalan, maka respon umat adalah mengucap syukur dengan memberikan yang terbaik kepada Tuhan
Doa PersembahanSegala pemberian ini kemudian didoakan agar diberkati oleh Tuhan
PengutusanSetelah melalui sebuah perjalanan indah bersama dengan Tuhan dan umat-Nya dalam setiap ruang liturgi, maka tiba saatnya Tuhan mengutus umat-Nya untuk kembali ke dalam keseharian mereka dan menjadi saksiNya.  Umat meresponi dengan kesediaan untuk diutus.
DoksologiSebelum menyelesaikan ibadah ini, maka umat dalam kesadarannya mengakui bahwa semua ini bisa terjadi hanya karena penyertaan Tuhan.  Itu sebabnya segala kemuliaan akan dikembalikan kepada Allah Tritunggal.
BerkatAllah pun menyertai umat dengan berkat-Nya supaya mereka pergi menjadi saksi-Nya.

Bentukan Liturgi ini menjadi panduan GKKA INDONESIA dalam ibadah korporat dari seluruh jemaat GKKA INDONESIA.  Melalui setiap rangkaian tindakan liturgi diharapkan umat Tuhan dapat bertemu dengan Tuhan, menikmati dialog dengan-Nya dalam setiap ruang liturgi, hingga pada akhirnya selesai dengan sebuah transformasi rohani dan siap diutus menjadi saksi-Nya.


[1]Kitab Keluaran menjadi dasar liturgi karena menjelaskan beberapa peristiwa penting terkait ibadah: (1) Tuhan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dengan tujuan agar mereka pergi beribadah kepadaNya; (2) Dia mengukuhkan diriNya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh bangsa Israel; (3) Tuhan memberikan firman-Nya sebagai panduan dalam hidup sehari-hari bangsa Israel; juga (4) Tuhan meminta mereka membuat Kemah Suci sebagai lambang kehadiran-Nya dalam berelasi dengan bangsa Israel, serta sebagai pusat ibadah mereka.

[2] Terjadi pengembangan ruang liturgi (yang secara mendasar terdapat 4 ruang, kini menjadi 5 ruang).  Pengembangan seperti ini tetap dimungkinkan sejauh esensi dari warisan model liturgika (4 ruang) tetap tercakup.   penjelasan berikutnya akan kita lihat bahwa liturgi 5 ruang yang berdasar pada kitab Keluaran memuat semua unsur dari liturgi 4 ruang.  Contoh pengembangan juga dapat dilihat dalam liturgi 5 jenjang (disingkat 5P) dari GKBJ Taman Kencana: (1) Persiapan, (2) Pembaharuan Anugerah, (3) Pemberitaan Firman dan Perjamuan Kudus, (4) Pembaharuan Komitmen, (5) Pengutusan.

[3] Sakramen Baptisan Kudus dan/atau Sakramen Perjamuan Kudus.  Jadwal pelaksanaan bergantung pada kebijakan gereja lokal.

[4] Respon ini sebagai bentuk dialog.  Di pasal 19 dapat dilihat bagaimana dialog yang terjadi antara Allah dengan umat-Nya (ay. 3,8,20-24).

[5] Paul N. Benware, Survey of the Old Testament Revised (Moody Press, Chicago, 1993), Hal 59

[6] Paul N. Benware, Survey of the Old Testament Revised (Moody Press, Chicago, 1993), Hal 61