ANAK-ANAK DALAM ALKITAB (2)

ANAK-ANAK DALAM ALKITAB (2)

MENGAPA ANAK-ANAK ?

Baca Mazmur 78 : 4-7

 

78 : 4  kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya,

78 : 5  Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka,

78 : 6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,

78 : 7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah,
tetapi memegang perintah-perintah-Nya;

Sekarang ini gereja tidak banyak memperhatikan anak-anak dan anak muda, tapi mereka tidak melihat jauh ke depan bagaimana mereka bisa kehilangan mereka. Anak-anak bukan merupakan kelompok yang sulit dijangkau, mereka dapat ditemukan dimana saja:

Anak-anak ada di dalam semua negara-negara, di semua kategori sosial-ekonomi dan disemua budaya
Anak-anak ada di semua komunitas: di dalam keluarga, sekolah, pasat dan tempat bermain
Anak-anak ada di semua area yang mudah dijangkau oleh Injil
Anak-anak ada di masyarakat marjinal: anak-anak dengan kebutuhan khusus, penjara…
Anak-anak di dalam situasi krisis dimana keadaan tidak menguntungkan bagi anak-anak untuk mendengarkan kabar baik.
Anak-anak ada di dalam situasi sulit yang lekat dengan perjuangan spiritual: dimana anak disakiti dan diacuhkan karena mereka mewakili iman Kristen.

Gereja harus memperhatikan anak-anak di sekitarnya dan kebanyakan anak-anak ada dalam keadaan dengan resiko yang tinggi

KEADAAN ANAK-ANAK SAAT INI

Resiko dan keadaan yang sulit dihadapi oleh anak-anak dan keadaanya semakin sulit dan kompleks. Sebagian dari anak-anak bahkan sampai menghadapi keadaan dimana dia tidak bisa makan. Sekitar 30 persen dari anak-anak dibawah lima tahun di dunia mengalami kekurangan gizi yang parah dan sangat parah. Bahkan di negara-negara maju, banyak anak dibesarkan di dalam keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Terlepas dari vaksin dan usaha lain yang mencoba melindungi anak-anak di dunia industrialisasi untuk melawan penyakit, tetap saja ada jutaan anak masih meninggal tiap tahunnya dari sakit yang dapat dan seharusnya bisa dicegah.

Meskipun konsensus tingkat dunia untuk meningkatkan kesadaran pentingnya  pendidikan, 72 juta anak-anak kecil di negara-negara berkembang tidak mempunyai akses untuk sekolah.  Jumlah-jumlah anak-anak ini bila mereka berbaris lurus maka panjangnya barisannya bisa dua kali lingkaran bumi. 50% dari anak-anak itu adalah anak-anak perempuan. Setengah juga Ibu meninggal tiap tahun ketika melahirkan anak mereka dan ibu-ibu ini meninggalkan anak-anak mereka juga dalam resiko yang sangat tinggi. Afrika mempunyai angka kematian Ibu yang sangat tinggi yaitu 51 % dan Asia 43%.

Lebih lagi, di dekake terakhir ini sekitar 2 juta anak-anak telah dibunuh dan lebih dari 6 juta anak-anak telah terluka atau cacat karena konflik bersenjata. Puluhan ribu anak-anak menjadi korban dari ranjau darat dan ribuan yang lain menderita karena munculnya konflik yang dikarenakan kerakusan terhadap penguasaan tanah, permata, dan minyak.

ANAK-ANAK DI INDONESIA

Mengerecut kepada anak-anak Indonesia. Saat ini anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang terpapar resiko yang cukup parah. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami kekurangan gizi. “Di dunia, prevalensi rata-rata kita masih rendah dan berada pada posisi buruk,” kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN, Nina Sardjunani, di Jakarta, Selasa, 16 Juli 2013.

Disisi lain, ada pernyataan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan, jumlah anak telantar di seluruh Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta anak yang tersebar di berbagai daerah. Anggaran yang tersedia di Kementerian Sosial sebesar Rp281 miliar hanya cukup untuk menganai sekitar 175 ribu anak.

Persoalan lain juga dialami oleh Ibu melahirkan dan bayi-bayi mereka. Menurut pendiri lembaga riset perempuan Women Research Institute (WRI), Edriana Noerdin, berdasarkan data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2012, jumlah angka kematian ibu dan anak tercatat mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu.

Semoga kita terbuka matanya, bahwa komunitas dan gereja perlu mengutamakan anak-anak dalam pelayanan. Melihat bahwa anak-anak kita dalam situasi yang tidak aman dan mengalami situasi “Seperti telur di ujung tanduk”

PERTANYAAN :

  1. Pikirkan tentang anak-anak dan anak muda yang Anda kenal. Apakah mereka dalam suatu ‘Resiko’ atau tidak? Kemudian daftarkanlah resiko-resiko yang mereka hadapi.
  1. Apakah selama ini anda terbiasa mengamati anak-anak di sekitar anda? Alasan apa yang membuat anda memperhatikan anak-anak dan anak muda disekitar Anda? Pikirkan beberapa cara untuk memperhatikan mereka, khususnya untuk mendukung dan mendorong mereka.
  1. Kategorikan interaksi yang selama ini Anda lakukan dengan anak-anak? Apakah kebanyakan positif? Kebanyakan negatif? Atau kebanyakan netral? Jelaskan.

Sumber:

Brewster, Dan. Future Impact. 2010. Compassion International
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/23/m2xabh-duh-jumlah-anak-terlantar-indonesia-masih-4-juta-lebih
http://health.liputan6.com/read/781358/angka-kematian-bayi-di-indonesia-masih-tinggi-apa-sebabnya
(Obed Nugroho’s story)

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *