Aku, Ambisiku, dan Rencana Tuhan

Aku, Ambisiku, dan Rencana Tuhan

Oleh Nana Sagala, Kuala Lumpur

Aku adalah seseorang dengan ambisi selangit. Sejak SMA, aku sudah menyusun timeline yang isinya rencana kehidupanku di masa depan. Aku ingin lulus kuliah tepat empat tahun, memulai karier sebagai konsultan humas selama setahun, setelah itu bekerja di lembaga pemerintahan, atau mengejar beasiswa kuliah di luar negeri. Semua rencana itu kususun dengan rapi berdasarkan urutan tahun.

Ambisiku untuk mewujudkan semua impian itu membuatku jadi seorang yang tidak pernah puas dengan prestasi akademik. Aku mengikuti banyak kompetisi dan juga kegiatan organisasi yang membuat jadwalku begitu padat. Namun, keseharianku yang sibuk itu tidak menjauhkanku dari persekutuan di kampus. Aku mengikuti Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) dan melayani Tuhan selama empat tahun di sana.

Ketika ekspektasiku berbenturan dengan realita

Singkat cerita, impianku untuk lulus tepat waktu dan memulai karier sebagai seorang konsultan humas pun terwujud. Sebagai lulusan pertama di angkatanku yang diterima kerja dengan cepat, tentunya aku pun merasa senang dan jadi semangat bekerja. Namun, pola kerjaku yang begitu menyita waktu, pulang malam dan bekerja saat akhir pekan, membuat orangtuaku kurang setuju. Mereka membujukku untuk mengundurkan diri saja.

Aku menuruti keinginan orangtuaku dengan asumsi targetku untuk bekerja selama setahun pertama menjadi konsultan humas sudah tercapai. Saat itu aku sama sekali tidak merasa khawatir dengan keputusanku untuk keluar dari pekerjaan itu walaupun belum ada perusahaan baru untukku bekerja. Aku begitu percaya diri bahwa bekal pengalaman kerjaku bisa membawaku ke perusahaan yang bagus. Sambil mengisi waktu menganggurku, aku pun mengikuti kursus bahasa Inggris.

Dua bulan pertama mengikuti kursus, aku merasa bahagia karena teman-teman di sana sangat baik. Tapi, setelah kursus berakhir, rasa percaya diriku untuk bisa segera mendapatkan pekerjaan mulai hilang. Sebagai seorang yang sangat aktif saat kuliah dan bekerja dulu, aku pun merasa stres karena tidak melakukan apapun di rumah. Setiap hari aku mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan, dan hampir setiap minggu aku mengikuti proses wawancara. Berbagai tahap rekrutmen sudah kuikuti dan rata-rata sudah mencapai tahapan akhir. Tapi, tak ada satupun yang membawaku sampai pada tanda tangan kontrak.

Situasi semakin pelik karena saat itu adalah masa menjelang Natal dan tahun baru di mana aku akan bertemu dengan keluarga besarku. Saat itu, kakakku mendapatkan beasiswa dan melanjutkan pendidikannya di Amerika. Karena prestasinya itulah kakakku menjadi topik hangat yang sering dibicarakan di keluarga. Ayah dan ibuku mengungkapkan rasa bangga memiliki putri yang menerima beasiswa, tetapi namaku tidak pernah disebutkan dalam cerita mereka.

“Ya Tuhan, kenapa berat sekali? Kenapa aku selalu ditolak? Kenapa momennya bertepatan sekali dengan Natal? Tidak ada sukacita Natal di hatiku karena aku hanya bisa menangis,” keluhku pada Tuhan. Aku pun mencari-cari alasan supaya tidak mengikuti acara kumpul keluarga.

Namun, tak lama berselang, angin segar berhembus. Aku dipanggil wawancara oleh sebuah perusahaan negara (BUMN) yang kudambakan sejak dulu. Proses seleksi dari tahap pertama sampai keempat berlangsung cepat dan aku pun sangat menikmati masa-masa ini. Setiap hari aku bersaat teduh dan merasa makin dikuatkan.

Tepat tiga minggu sebelum pengumuman hasil seleksi di BUMN tersebut, bacaan saat teduhku diambil dari Daniel 10—kisah pergumulan Daniel di sungai Tigris yang menanti jawaban Tuhan selama tiga minggu sebelum Tuhan jawab ‘iya’. Selama tiga minggu, Daniel berkabung dan berpuasa di tepi sungai Tigris. Masa-masa tersebut membuat Daniel menjadi lemah, namun Tuhan memberinya kekuatan supaya bisa melaksanakan perintah-Nya. Tapi, tanpa kusadari, karena aku sangat berharap bisa diterima di BUMN itu, maka dalam benakku aku selalu mengaitkan pesan Tuhan yang kudapat dari saat teduh itu dengan ambisiku sendiri. Aku merasa setiap renungan yang kubaca, termasuk renungan dari Daniel 10 ini mengarahkanku pada jawaban “iya” dari Tuhan, bahwa aku pasti diterima di BUMN itu.

Ketika aku disadarkan bahwa caraku mengejar ambisi itu salah

Menjelang pengumuman tahap akhir, aku merasa was-was, apalagi saat itu ibuku menawarkanku untuk menghadiri wisuda kakakku di Amerika. Kata ibuku, waktunya sudah sangat dekat sehingga beliau harus segera memesan tiket. Tapi, di sisi lain aku harus menunggu hasil seleksi BUMN ini dan keadaanku menjadi dilematis. Jika aku diterima bekerja di BUMN itu, maka aku tidak bisa pergi menghadiri wisuda kakakku. Tapi, jika aku gagal, maka artinya aku akan menganggur lebih lama.

Tepat di minggu itu pengumuman rekrutmen tahap akhir pun diumumkan, namun aku tidak menemukan namaku tercantum di sana. Aku kembali gagal. Dadaku rasanya begitu sesak. Seluruh tahapan seleksi telah kulalui dengan baik, namun aku gagal pada tahap cek kesehatan padahal sudah berolahraga tiap hari. Bahkan, saat tes lari di treadmill pun susternya terkejut karena katanya stamina berlariku setara seorang Polwan.

Aku begitu kecewa. Tapi, ada hal lain yang membuatku lebih kecewa, yaitu melihat ayahku menangis. Dia sangat ingin aku bekerja di BUMN itu. Tangisan ayahku membuatku merasa semakin gagal. Namun, respons ibuku ternyata di luar dugaanku. “Mama tidak apa-apa. Gagal itu hal biasa. Masa depanmu masih panjang.” Kalimat ini begitu menenangkan hatiku sampai hari ini. Masa depan Tuhan yang pegang, bukan aku sendiri, dan perjalanan hidupku pun masih panjang.

Sejak pengumuman itu, aku kehilangan semangat. Lalu, sekujur telinga dan pipiku pun terkena alergi, dan sesuai anjuran dokter, aku tidak boleh banyak beraktivitas di luar rumah. Selama beristirahat di rumah, aku melakukan bisnis online dengan menjual aksesoris wanita yang kurakit sendiri. Puji Tuhan, penghasilan dari usaha sederhana ini bisa menambah pemasukanku. Tapi, bekerja di dalam rumah membuatku depresi karena pada dasarnya aku adalah seorang yang aktif dan suka beraktivitas di luar rumah.

Sampai di titik ini, aku mencoba merenung untuk mencari tahu apa maksud dari kegagalan ini. Melihat kondisiku yang dipenuhi rasa kecewa, seorang sahabatku sempat menegurku bahwa aku seperti menjadi orang yang berbeda. Jika dulu aku orang yang ceria dan bersemangat, sekarang menjadi orang yang lesu. Teguran sahabatku itu membuatku sadar dan bertanya: Apakah karena kegagalan ini imanku pada Tuhan jadi berubah? Tak hanya sahabatku, kakakku pun menegurku. “Dulu kakak pernah menganggur cukup lama bahkan sampai tak ada lagi tabungan sedikit pun. Tapi, kakak tidak malu, ternyata Tuhan punya rencana yang lebih baik,” kata kakakku sembari meyakinkanku untuk bersabar.

Kegagalan dan teguran dari sahabat dan kakakku menyadarkanku bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan memiliki ambisi. Akan tetapi, upayaku mengejar ambisi tanpa disertai memohon hikmat dari Tuhan itulah yang membuatku lupa bahwa ada Tuhan yang memegang kendali atas segala sesuatu. Alih-alih berserah, pengejaranku akan ambisi tersebut membuat telingaku tertutup dari suara Tuhan dan hatiku tak mampu lagi menyerap firman Tuhan dengan benar karena aku tak lagi mengundang Roh Kudus hadir dalam hidupku. Firman Tuhan yang seharusnya menegurku (Ibrani 4:12) tak lagi berfungsi demikian karena aku menafsirkannya sendiri supaya selaras dengan ambisiku.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yohanes 2:16). Ketika aku begitu terobsesi akan ambisi dan tak lagi membuka hatiku untuk mendengar suara Tuhan, maka Tuhan tidak lagi dimuliakan dalam hidupku. Segala pencapaian yang kuraih tersebut menjadi sebuah pengakuan akan betapa hebatnya aku, bukan lagi akan betapa luar biasanya cara Tuhan bekerja dalam hidupku.

Ketika aku menerima rencana Tuhan dalam hidupku

Satu minggu setelah hari pengumuman penolakanku, aku diterima oleh salah satu perusahaan di Malaysia untuk posisi Humas. Ada rasa bahagia, tapi ada keraguan karena aku merasa mengkhianati negeriku sendiri, dan aku juga takut tinggal jauh dari keluarga.

Selama satu minggu, sebelum waktu tanda tangan kontrak, aku berdoa dengan sungguh-sungguh. Setiap harinya, Tuhan menegurku melalui bacaan saat teduh yang bercerita tentang bangsa Israel yang keluar dari Mesir. Selama masa-masa di padang gurun, walaupun bangsa Israel sering menggerutu, Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ketika mereka lapar, Tuhan mengirimkan roti mana dan burung puyuh. Ketika mereka kepanasan dan kedinginan, Tuhan memberikan tiang api dan tiang awan. Jika kepada bangsa Israel yang menggerutu pun Allah tetap menyertai, aku pun percaya bahwa Dia akan menyertaiku juga.

Setelah menggumuli dengan sungguh-sungguh, di hari terakhir aku memutuskan untuk menandatangani kontrak kerja dan menerima kesempatan untuk bekerja di luar negeri.

Melalui peristiwa panjang mencari pekerjaan inilah aku diajar Tuhan untuk berserah pada rencana-Nya, bahwa Dia tahu yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Tidaklah salah untuk memiliki dan mengejar ambisi. Akan tetapi, mengejar ambisi tanpa disertai hikmat dari Tuhan bisa membuatku lupa bahwa Tuhan memegang kendali atas segala sesuatunya.

Aku percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik. Mungkin, saat ini belum saatnya aku berkarya di negeriku sendiri. Namun, aku yakin bahwa aku akan belajar banyak hal di negeri jiran dan membawanya pulang sebagai bekal kelak untuk membangun negeriku.

Melalui perjalanan hidupku inilah aku semakin sadar bahwa rencanaku seringkali bukanlah rencana Tuhan. Oleh karena itu, biarlah kehendak Tuhan saja yang terjadi.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).

Sumber

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *