1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia

1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia
Oleh Claudya Tio Elleossa, Surabaya – Foto oleh Aryanto Wijaya

Suatu ketika, tatkala aku sedang menjelajah media sosialku, ada seorang teman yang mengungkapkan kekecewaannya dengan mengumbar kritik-kritik tak sedap. Nama “Indonesia” pun dia pelesetkan dengan ejaan yang salah. Ketika kutanya mengapa, dia berkata bahwa kritikan pedas itu adalah satu-satunya cara berkontribusi bagi negeri ini. Jawaban itu kemudian membuatku terdiam tak habis pikir. Jika memang kita “hanya bisa bersuara”, mengapa tidak kita berikan saran dan bukan kecaman?

Momen ini mengingatkanku kembali akan pergumulanku dulu ketika memulai karier sebagai seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Sebagai seorang guru, aku ingin mengemas pelajaran PKN supaya murid-muridku nantinya tidak sekadar menghafal, tetapi juga belajar untuk memiliki hati yang mau mencintai tanah airnya. Oleh karena itu, sebelum aku benar-benar mengajar mereka, aku memutuskan untuk terlebih dahulu belajar mengenal negeriku Indonesia lebih dekat.

Bak gayung bersambut, tepat di bulan Juni 2015, aku diterima menjadi seorang relawan dalam sebuah program pelayaran. Tugasku waktu itu adalah mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Program ini diprakarsai oleh pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan semangat dan rasa cinta tanah air bagi tiap pesertanya. Bersama 9 orang relawan lainnya, aku ditempatkan di sebuah pulau kecil bernama Keramian yang membutuhkan waktu tempuh selama 22 jam berlayar dari daratan Jawa.

Tidak ada dermaga di pulau itu. Jadi, kapal besar yang kami tumpangi harus membuang sauh di tengah-tengah lautan, kemudian kapal-kapal kecil milik nelayan setempat menjemput kami. Satu per satu logistik dan relawan berhasil dipindahkan dari kapal besar ke perahu nelayan. “Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!” gumamku dalam hati.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Selama mengajar di sana, segala kenyamanan yang biasa aku temui di Jawa harus kutinggalkan. Jika di Jawa listrik bisa menyala kapanpun, di sini listrik hanya berfungsi selama 4 jam saja dalam sehari. Tak ada bahan pangan yang melimpah, dan juga kondisi sekolah-sekolah memprihatinkan. Apa yang kulihat di depan mataku adalah sebuah ironi. Di negeri yang kutinggali ini, ada terlalu banyak kondisi yang tidak ideal. Lalu, siapa yang dapat membenahinya? Aku rasa orang hebat atau pejabat pun tidak akan bisa membenahi permasalahan ini. Saat itu aku melamun, merasa amat kecewa dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Di tengah lamunanku, ada sekelompok anak mendekatiku dan mengajakku berbincang-bincang. Dengan antusias, mereka bertanya tentang banyak hal: Apa itu kuliah? Bagaimana kondisi sekolah di pulau Jawa? Setelah aku menjawab mereka dengan bercerita, sekarang giliran mereka yang bercerita. Kata mereka, setiap kali menjelang Ujian Nasional, mereka akan menabung hingga beberapa bulan sebelumnya untuk menyewa kapal penjemput soal-soal agar mereka dapat mengikuti Ujian Nasional. “Yang penting kami bisa lanjut sekolah kak, kalau harus sewa kapal, ya udah sewa aja,” kata mereka dengan polosnya. Cerita mereka membuatku terdiam. Di tengah keterbatasan akan akses pendidikan, alih-alih berdiam diri, mereka rela menabung dan menyewa kapal demi bisa mengikuti Ujian Nasional.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Potongan percakapanku dengan anak-anak di Pulau Keramian ini membuatku akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanku selama ini: Bagaimana cara mencintai negeri ini? Jawabannya adalah dengan berani bertindak. Sebenarnya, dengan keterbatasan akses pendidikan, mereka bisa saja tidak mengikuti Ujian Nasional. Mereka bisa saja menyalahkan pihak lain atas keterbatasan akses yang mereka miliki. Tapi, alih-alih melakukan itu semua, mereka lebih memilih untuk bertindak. Alih-alih mengutuki kegelapan, mereka memilih untuk menyalakan sebuah lilin untuk mengusir kegelapan itu.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Di banyak seminar-seminar motivasi tentang kesuksesan, mungkin kita tidak asing dengan saran dan dorongan untuk bertindak. Tapi, siapa sangka bahwa motivasi untuk mau bertindak ini juga berlaku untuk mengungkapkan bahasa cinta kita kepada tanah air?

Pengkhotbah 11:4 berkata, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Sikap yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan untuk bertindak. Daripada melontarkan kritik-kritik pedas penuh kutuk tanpa aksi, lebih baik kita mulai melakukan satu tindakan nyata.

Sumbangsih yang bisa kita lakukan bisa kita mulai dari talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita dan juga dimulai dari tempat di mana kita berada saat ini. Aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah meminta apa yang tidak Dia berikan pada kita. Dengan talenta yang Dia sudah percayakan, Dia ingin kita mengusahakan kesejahteraan negeri tempat kita tinggal sekarang (Yeremia 29:7). Jika talenta kita adalah menulis, Tuhan tidak akan meminta kita untuk merancang sebuah pesawat terbang. Jika talenta kita adalah di bidang Arsitektur, Tuhan tidak akan menuntut kita untuk merancang pakaian layaknya desainer terkenal. Lakukanlah apa yang memang kita bisa.

Perjalanan yang kulakukan selama beberapa waktu di Pulau Keramian itu menginspirasiku untuk mulai melakukan tindakan-tindakan kecil tetapi nyata sebagai wujud kontribusiku untuk Indonesia.

1. Aku jadi lebih giat mendidik generasi muda melalui profesiku sebagai guru

Pengalaman mengajar anak-anak di sana membuatku jadi lebih lagi menghayati profesiku sebagai seorang guru. Jika dahulu aku mengaggap guru sebagai pekerjaan yang biasa saja, sekarang aku menyadari bahwa pekerjaan ini adalah ladang yang memang Tuhan percayakan kepadaku—ladang untukku menunjukkan cinta dan mengusahakan kesejahteraan bangsaku dengan mengajari anak didikku. Sebagai seorang guru, aku tahu betul bahwa aku sedang berinvestasi pada generasi muda penerus bangsa. Kepada merekalah masa depan bangsa ini dipercayakan.

2. Aku giat menulis

Selain mengajar, salah satu talenta yang Tuhan berikan kepadaku adalah menulis. Melalui menulis, aku belajar untuk mengungkapkan opini serta saranku atas suatu fenomena yang terjadi lewat tulisan-tulisan. Dengan menulis, aku juga belajar melatih diriku untuk berpikir kritis serta menggugah semangatku untuk mencintai Indonesia.

3. Aku bergabung dengan komunitas dan menjadi relawan

Belakangan ini, aku juga bergabung dengan komunitas pembuat video yang bergerak menyebarluaskan pesan positif melalui karya audio visual. Caraku lainnya untuk bersumbangsih bagi Indonesia adalah melalui keikutsertaan sebagai relawan. Beberapa waktu lalu, aku mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi non-pemerintah (NGO) dari Singapura. Organisasi itu menugaskanku untuk menyebarluaskan kesadaran atau awareness terhadap pemberdayaan wanita di daerah pelosok Indonesia, serta mengedukasi mereka untuk beralih menggunakan lampu hemat energi daripada lampu pijar minyak.

4. Aku membuat proyek sosial

Dalam lingkup yang lebih kecil, aku membuat konsep proyek sosial yang kuberi judul “As Their Wish”. Melalui proyek ini, aku berusaha memberikan barang-barang yang memang dibutuhkan oleh para lansia di sana. Proyek kecil yang kulakukan di sini adalah salah satu upayaku untuk berlatih peka terhadap lingkungan sosial di sekitarku. Tuhan sudah menempatkanku di Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya aku mencintai negeri ini lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan sesuai dengan kapasitasku saat ini.

Mungkin tindakan-tindakan yang kita lakukan terlihat remeh, tetapi aku selalu yakin bahwa tugas kita adalah untuk melakukan sesuatu. Selama itu positif dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita dapat percaya bahwa ada daya guna di baliknya. Walaupun signifikansinya kecil, walaupun lingkupnya hanya lokal, tetapi—sekali lagi, itu lebih baik dari sikap berpangku tangan.

Mungkin saat ini kita memiliki banyak harapan terhadap bangsa kita. Di saat yang sama, kita tidak menutup mata bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dari Indonesia. Mungkin kita bisa saja merasa kesal dan kecewa. Tetapi, seperti pesan dari kitab Pengkhotbah: Marilah kita berhenti sekadar memperhatikan dan mulailah bertindak. Mulailah satu langkah kecil sesuai dengan apa yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Jangan sampai kita piawai berekspektasi tetapi lumpuh dalam mengeksekusi.

Oleh Claudya Tio Elleossa, Surabaya 

share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *